EAR[14] – ULO – Men (2012)

Yak ini dia setelah sekian lama kami berbohong akan merilis dengan kata ‘tonight tonight dan tonight’ akhirnya kami merilis juga rilisan ke-14 ini, this afternoon. Sebuah karya besutan salah satu tokoh peneror tata baku bebunyian, Mr. Akbar Adi Wibowo yang kali ini dengan proyek noise terbarunya bernama ULO, menyediakan bebunyian berisik yang absolut akan menyentak ruang-ruang pikiran anda yang paling surgawi, yang paling dalam didalam otak dan hati anda. ULO memulai debutnya pada acara XTC #6: Jogja Noise Bombing yang diadakan di area parkir Nichers Store bersamaan dengan hadirnya Ranrau Ranjau dan Circuitrip. Juga diawali dengan terbitnya single “Gigitan Pertama” yang memang terdengar nyeleneh dari judulnya, tapi tidak nyeleneh dalam keabsolutan sesuaraanya. Kali ini pun begitu, Akbar menunjukan kedisiplinanya dalam berkarya lewat ULO, rilisan ini tidak hanya ada dalam bentuk digital yang dapat disedot gratis saja, bentuk fisiknya juga ada, hanya 3 buah saja. Persebaran rilisan fisiknya pun disiplin, yang bisa mendapatkanya hanyalah orang-orang yang dikehendaki oleh Akbar saja, yah selain itu memang juga karena jumlahnya yang terbatas. Namun hal-hal tersebut tidak mereduksi nilai-nilai kedisiplinan ULO dalam menelurkan karya, ULO bersuara tetap pada poros kedisiplinan absolut yang diciptakan oleh Tuhanya yaitu Akbar Adi Wibowo. ULO menari diantara benih-benih ketiadaan yang terkikis oleh kebersamaan fana yang kerap diciptakan oleh Akbar melalui bebunyianya, ataupun petuahnya. Rasakan keegoisan, keabsolutan, dan kedisiplinan sebuah karya NOISE oleh Akbar Adi Wibowo dalam rilisan berikut ini.

EAR[15] – Naturial – Journey into Space of (2012)

 Kami kaget, kami terharu, sebelumnya kami tidak menyangka akan mendapat kiriman sebuah tata persuaraan yang baku nan magis dari seorang kerabat di kota Bandung sana. Here it is, rilisan ke-15 dari kami, Naturial, Experimental Spacy Post Rock dari kota Paris yang beriklim tropis. Naturial adalah proyek solo dari sesosok Fahmi Mursyid yang mungkin ingin membagikan representasi curahan spiritualnya terkait luar angkasa, tata surya dan Tuhan melalui karya berikut ini. Sebelumnya lagi kami memohon maaf kepada Fahmi karena rilisan ini juga mengalami keterlambatan waktu perilisan karena adanya aral melintang yang tak dapat kami bendung, kami sungguh menyesal, mohon maaf sebesar-besarnya. Kembali ke karya yang dituangkan oleh Naturial, disini yang akan kami bicarakan tidak jauh-jauh juga dengan rilisan sebelumnya yaitu disiplin dalam berkarya. Asal tahu saja sebenarnya rilisan ini hendak kami rilis pada Januari 2013 mendatang, namun beliau sendiri datang melalui surat elektronik untuk meminta rilisanya diselipkan untuk dirilis pada tahun 2012, karena beliau berkeinginan untuk menyesuaikan dengan timeline berkarya dari Naturial yaitu: Setiap Satu Tahun Satu Rilisan. Bagi kami itu merupakan sebuah bentuk kedisiplinan dalam berkarya, dan kami sangat menghargai tersebut. Karena kedisiplinan dari sang pencipta karya, merupakan salah satu kekuatan yang mampu memojokan kami, untuk segera merilis maha karya ini dan menyebarluaskanya pada penghujung tahun 2012 ini bersama dengan rilisan yang lain, membuat kami merombak timeline kami, tapi tak apa, hey yan gpenting semua bisa tersenyum disini, itulah keindahan yang sesungguhnya buat kami. Yak, kembali ke substansi musik yang dibawakan oleh Naturial, bila anda menyukai pendawai-pendawai dari genre musik Post Rock seperti Lights Out Asia, God Is An Astronaut atau Sleep Dealer anda (kami pastikan) akan dengan mudah mencerna bebunyian yang diludahkan oleh Naturial melalui karyanya. Ditambah lagi dengan judul-judul lagu seperti “Space Travel” dan “What Galaxy Do We Live In” semakin membawa pendengar untuk menjelajahi ruang-ruang imaji tentang luar angkasa yang gemerlap dan kaya warna bagaikan surga. Saya rasa hal yang akan lebih membantu penjelasan-penjelasan kami adalah ketika anda benar-benar mendengarkan rilisan ini, karena tidak hanya dari judulnya saja, Naturial benar-benar sedang memainkan bebunyian Ambient dari luar angkasa sana. Seperti lagu ‘”Mars Curse” dengan bunyi-bunyianya yang saya anggap “ngawang” benar-benar membuat sebuah bentuk, bentuk panggilan dari luar angkasa sana, khususnya planet Mars, berupa kutukan-kutukan yang mendamaikan telinga tapi mendebarkan di hati pendengar kutukanya. Kutukan yang lebih seperti ajakan pada pendengar untuk sekedar menengok, dan bertanya “Ada apa di atas sana ?”, sebuah pembangunan rasa keingintahuan. Dan ini keren, bermula dari rasa ingin tahu, ‘pemusik’ dapat membuat pendengar-pendengarnya untuk tergerak, melakukan aksi yang didasari oleh rasa ingin tahu. Jika anda ingin mencoba tergerak atau sekadar penasaran seperti apakah sesuaraan yang diciptakan oleh Naturial, silahkan unduh rilisan ini pada link berikut. Salam.

 

Download Here

 

EAR[16] Rabu – Kemarau, Bunda dan Iblis (2012)

Kami tahu, kami setuju dan kami yakin. Ini adalah persembahan pamungkas pada akhir tahun 2012 yang pantas dari sang pelantun nyanyian petaka hati yang melegenda, Rabu namanya. Sebenarnya sudah lama sekali kami mendapatkan karya ini dari penciptanya yaitu Wednes M. mungkin sekitar bulan ke-10 kemarin. Dan ketika kami mendengarkan kiriman material tersebut, kami terhempas, benar-benar terhempas, kami tidak main-main dengan yang satu ini. Setelah melalui demo pertamanya Semerbak Wangi dan debut live performancenya di HONFablab, Rabu tidak henti-hentinya menyentak kami dengan teori-teori serta bebunyianya yang amat bersahabat sekaligus berbahaya. Kemarau, Bunda dan Iblis, rasanya kami bisa memahami apa maksud dari kata-kata yang menjadi judul album tersebut sebagai orang-orang yang merasa bersahabat dengan Rabu, coba artikan lah makna dari judul album tersebut. Menurut kami, bebunyian serta tercetusnya ide judul album tersebut tercipta ditengah-tengah kesibukan sang Rabu sebagai seorang mahasiswa arsitektur yang aktif, dimana ditengah-tengah keterengah-engahanya ada Bundanya yang mau menyempatkan waktu walau hanya sebentar untuk memberi komentar mengenai musik yang diciptakan oleh anaknya. Dan ditengah-tengah kesibukanya ada iblis-iblis atau lebih tepatnya makhluk-makhluk yang dianggapnya sebagai iblis yang hanya menjadi batu kerikil maupun bukan batu kerikil yang menghalangi aktifitasnya ditengah kesibukanya. Kemarau, Bunda, dan Iblis merupakan sebuah penggambaran situasi keterengah-engahan seorang Wednes, yang mewujudkan sebuah rasa galau yang tak dapat dibendung lagi namun juga tak bisa diungkapkan begitu mudahnya oleh sang pelantun petaka jika hanya melalui wacana ataupun obrolan santai ataupun sebuah debat kusir, tidak, tidak bisa. Wednes menyalurkan kegalauanya disini, di Rabu, di album ini. Melalui sound yang lebih gelap (bukan berarti anti dengan yang tidak gelap), kasar dan seram, pelantun petaka melantunkan curahan perasaan galaunya tentang peradaban, melaknat segala sesuatu hal yang mengganggu kedamaian hatinya, yang membuatnya diperbudak dalam keterengah-engahan. Rabu dan karyanya itu seperti sebuah letusan sebuah gunung yang bernama Wednes, meletuskan lahar-lahar hitam kepenatan yang tak bisa lagi diam bermuara didalam perut ataupun hati. Ya, Rabu itu suara hati. Maka dengarkanlah karya ini, karena suara hati ini layak untuk didengar, kami jamin, ini adalah sebuah suara hati yang paling jujur dalam ranah eksperimentasi karya musik yang pernah kami dengar sepanjang sejarah yang kami tempuh. Lurus dan tanpa gimmick, namun perasaan aneh yang diciptakanya begitu nyata. Jika anda menyukai pelantun-pelantun tembang depresif dari Michael Gira sampai TJ Cowgill, tembang-tembang dari Rabu mungkin dapat menjawab rasa ‘ingin dengar’ anda terhadap karya-karya dengan jenis itu, dari sisi musikalitas tentunya. Namun tetap saja, dari sisi spiritual, kita tidak akan bisa menemukan apa sisi spiritual yang diciptakan oleh Michael Gira dengan Wednes Mandra. jelas jauh berbeda. Sama-sama depresif, namun penciptaan ruang, warna dan corak spiritualitas melalui sesuaraanya tentu saja berbeda. Sulit sekali menjelaskan sesuaraan, kami sudah mencapai titik batas dan tidak bisa membahas sesuaraan dari Rabu untuk menjawab rasa ingin tahu anda. Biarlah bebunyian-beunyian itu yang menghendaki untuk bisa menjawab atau tidak bisa menjawab rasa ingin tahu anda tentang apa itu ‘spritually depressive’ untuk anda. Jangan manja, begitu pula sebaliknya, ciptakan sendiri sudut-sudut atau ruang-ruang depresif dan kelam anda sendiri, rasakan dulu, kelamkan sejenak, lalu tabrakan dengan apa yang telah dikehendaki oleh bebunyian-bebunyian itu. Maka yang akan terjadi disana adalah sebuah dinamika, yang tidak akan pernah anda temukan sebelumnya. Maka segera dengarkanlah, segera rasakanlah, sebuah dinamika, karena dinamika itu baik.