Macet pikiran saya selama tiga hari tiga malam untuk mengulas buku ini. Gelisah saya mondar-mandir di kamar, sambil gigit jari dan main lempar tangkap botol minum usang, namun tetap saja mampet, seperti pipa lumutan: kalaupun ada yang keluar, terlalu kotor, keruh, tak pantas untuk dituliskan. Jalan-jalan di sekitar penginapan pun tak memberikan pencerahan. Bahkan, membolak-balikan halaman buku ini pun hanya buat pusing tak karuan. Benar-benar mumet bikin lapar.

Benar-benar. Ini buku sangat kompleks dan holistik sekali isinya. Mengulas dengan mengutip satu atau dua alineanya untuk menarik perhatian Anda, seperti yang biasa saya lakukan, agar mau membacanya, resah saya, hanya akan merusak pesan besar yang ingin Lawrence sampaikan. Ini karena kaitan antar bab, pula fakta-fakta yang Lawrence tuliskan berangkai dan sulit diputus di tengah jalan, untuk dicomot, guna menekankan betapa pentingnya buku ini bagi masing-masing dari kita. Fakta yang ia ungkapkan berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan oleh korporasi besar untuk mengambil keuntungan dari ‘proses kreatif’ masyarakatnya lewat hukum dan teknologi, sungguh mengerikan, besar, dan nyata, hingga sulit dicukil sinopsisnya di sini. Paling-paling saya cuma berani punya prediksi atau angan-angan buruk tentang ini. “Kalau ini yang terjadi di Indonesia, maka bisa-bisa saya tak lagi bisa mendengar full album Sigur Ros atau Yuck, inspirasi saya, di dunia maya sebelum memutuskan untuk menabung, membeli CD aslinya. Karena korporasi besar mampu membuat saya membayar walau cuma mendengar beberapa menit preview-nya saja.”  Dan tampaknya mimpi ini semakin jelas ketika tragedi ACTA, SOPA dan PIPA, yang berdasar pada hukum pembajakan dan hak cipta, turut berpengaruh pada Indonesia di Januari silam. Jika membaca pengungkapan besar dari Lawrence di buku ini, maka tragedi ini cuma awal. Sial!

Karena rasa gemas saya tak terkira, karena sesungguhnya saya ingin memaksa Anda membaca, tapi tak tega mencukil fakta-fakta ungkapan Lawrence, maka berikut saya tuliskan satu alinea yang harap saya dapat mendorong Anda untuk mengunduh gratis versi e-booknya atau mengkopi fisik milik teman Anda, dan membaca keseluruhan deskripsi Lawrence tentang nasib budaya bebas sampai habis. Ingat jangan setengah-setengah, nanti salah tafsir, lalu jadi ekstremis. Tapi, kalaupun satu alinea yang saya tuliskan ini belum juga mendorong Anda untuk membaca, berarti saya cuma bisa berdoa. Bahwa semoga yang terakhir ini, cuma salah sangka. Waspada, wong bodho dadi pangane wong pinter lho, kalau kata pepatah Jawa. Ati-ati. Bisa-bisa ini yang nyata terjadi di Indonesia nantinya kalau tak memahami betul permasalahannya, karena indon suka tiru-tiru produk hukum Amerika. Bisa-bisa, betul tulis Lawrence pada judul bukunya: media besar ( jadi benar-benar) memakai teknologi dan hukum untuk membatasi budaya dan mengontrol kreativitas masyarakatnya. Waspada.

“Budaya bebas semakin menjadi korban dalam perang melawan pembajakan. Sebagai respon terhadap ancaman nyata, meskipun belum bisa dihitung, yang dihadirkan oleh teknologi internet kepada model bisnis abad kedua-puluh dalam memproduksi dan mendistribusikan budaya, maka hukum dan teknologi ditransformasikan dengan cara yang dapat mencelakakan tradisi budaya bebas kita. Hak properti yang berupa hak cipta tidak lagi seimbang seperti yang diterapkan atau diharapkan di masa lalu. Hak properti yang berupa hak cipta menjadi tidak seimbang, bahkan condong ke arah ekstrem. Kesempatan untuk menciptakan dan mentransformasi menjadi semakin dilemahkan di sebuah dunia di mana berkreasi membutuhkan ijin dan segala bentuk kreativitas harus dikonsultasikan dahulu kepada pengacara.”  —Lawrence Lessig, 205

Oleh Oming