Sebenarnya halaman ini bisa anda lewat tanpa konsekuensi apa pun. Ini hanyalah penjelasan singkat atas kalimat yang saya hapus, titik yang saya hapus, kata “yg” yang diganti dengan yang [redundancy intended] atau paragraf yang saya penggal.

Saya sejatinya tak punya kapabilitas yang cukup untuk menyunting naskah-naskah yang masuk. Wawasan saya tentang netaudio, label berbasis internet apalagi budaya bebas cetek. Saya cuma tahu Netlabel, itu pun – sebelum saya membaca semua naskah ini – tak lebih dari kanal mengunduh musik nir-dosa. Belum lagi, saya tak punya kemampuan bahasa yang cukup apik untuk layak didapuk sebagai editor bahasa. Tak usah heran jika anda masih kerap menemui kesalahan tata bahasa di sepanjang zine ini. Pasti saya melewatkannya atau – ini lebih parah – Itu justru by-product dari editan saya.

Walhasil, Perpaduan wawasan yang sempit dan kemampuan berbahasa yang terlampau terbatas ini memberi saya satu pilihan: menjadi pembaca atau – lebih tepatnya – editor awam. Semasa menjalani peran sebagai editor awam inilah saya sadar lantas tercerahkan. Ternyata, Budaya bebas tidak melulu soal Netlabel, ada radio online, misalnya. Pun, netlabel – porsinya paling besar di zine ini – punya peran yang lebih dari sekadar kanal unduh gratis, mulai dari menjadi bentuk paling umum dari free culture, alternatif pengarsipan karya musik, ranah pemberontakan atas kejumudan musik Indonesia hingga penyelamat skena musik suatu daerah di Jawa. Pencerahan ini – nanti anda lihat sendiri – datang dari tulisan-tulisan yang coraknya [kadang] sangat berbeda satu sama lain, mulai dari tulisan berbau akademis nan rapih, wawancara personal, infografis hingga essay cum curhatan.

Tentang corak tulisan ini, ada sebuah kejadian menarik ketika saya menyunting zine yang kini anda pegang. Teman saya – seorang kutu buku dan pemerhati musik – berkomentar dengan ringan “Nan, ini kok naskahnya jomplang banget ya? ada yang akademis banget. Ada juga yang curhat ga berenti-berenti.” Saya hanya tersenyum. Tak ada jawaban sebab saya editor awam. Pun, Tak ada kata yang saya ucapkan karena pada akhirnya toh saya memelihara kejomplangan itu dalam sekujur zine ini. Pikir saya, yang bisa bicara itu bukan sekadar mereka yang well-read dan mafhum segepok teori ilimiah, mereka yang hanya berbekal pengalaman pribadi pun bisa!

Maka, sila nikmati zine tentang netaudio dan budaya bebas ini. Jangan kaget apalagi pusing sebab saya biarkan biarkan isi zine ini [hampir] mentah-mentah. Dus, tulisan akademik harus bersisian dengan coret-coretan curhat dan wawancara yang nyablak; Artwork yang seram berbagi halaman infografis yang tengil. Lagipula, bukankah sudah saya bilang zine jomplangnya bukan kepalang?

Dan, bila masih menuntut penawar atas kejomplangan ini, saya sarankan anda menempuh jalan yang saya ambil. Jadilah pembaca awam sebab mungkin dengan demikian mozaik ini akan ranumnya layaknya setiap musik gratis di daring, legal maupun ilegal!

Tabik.

24 Oktober 2012

Gandaria – Jakarta Selatan

Oleh Mochamad Abdul Manan Rasudi