Ceritakan dulu dong sejarah Yes No Wave Music ini?

Awalnya sih sbenernya ga ada niatan untuk membuat sebuah label rekaman karena hanya sekedar ketertarikan saya (Wok the Rock) pada percepatan teknologi digital dan output produksinya terhadap kebebasan berpendapat dan berkarya di masyarakat luas. Konsep opensource bagi saya adalah sebuah konsep yang sangat brilian dan mulia yang dihasilkan oleh manusia di akhir abad 20 yang dikemudian hari diaplikasikan menjadi program2 populer yang benar2 memberikan kontribusi besar bagi hajat hidup orang banyak, seperti dibangunnya situs Wikipedia, browser Firefox, perpustakaan digital The Internet Archive hingga model hak cipta karya digital di Creative Commons, dsb yang kesemuanya itu memiliki sifat yang sama, yaitu gratis, bebas dimodifikasi, adanya kemungkinan besar untuk saling berkolaborasi dan didedikasikan bagi perkembangan ilmu pengetahuan yang open-mind bagi masyarakat dunia.  Kaum marxis dan seniman Dadaism kuno wajib hormat dengan teknologi ini.

Beranjak dari fenomena tersebut, pada tahun 2003 bersama teman2 di Ruang MES 56 –tempat saya bekerja, kami membuat sebuah proyek pameran seni visual bertajuk “Hidden Files/Open Sources” dimana kami mengundang siapa saja untuk mengolah/mereka ulang gambar2 yang sudah ada dengan menggunakan program olah visual digital. Proyek ini mencoba membongkar wilayah hak cipta sebuah karya seni yang dianggap ‘keramat’ selama ini dengan cara yang kreatif. Setelah proyek ini saya berpikir keras untuk membuat suatu karya lain dengan konsep dan metode ‘all for one and one for all’ gaya baru ini. Hingga saya menemukan situs band bernama Carbon/Silicon , sebuah proyek musiknya Mick Jones dan Tony James (ex- Generation X). Band ini menggarap sebuah konsep bermusik yang terinspirasi oleh teknologi internet dan file-sharing. Album2 yang mereka produksi hanya dirilis melalui situs mereka dalam format mp3 dan didownload dengan gratis. Dari sinilah gagasan saya untuk bertekad membuat sebuah proyek label rekaman yang rilisannya didistribusikan secara gratis melalui internet. Kemudian saya bikin riset dengan browsing di internet tentang ‘industri’ musik dengan model seperti ini sampai kemudian menemukan sebuah kolom bernama ‘netlabel’ di Internet Archive yang ternyata udah lama eksis! Hahahaaaaaa…so, tidak ada kata terlambat. Here we are! Yes No Wave Music, in the interest of spreading music, rather than profit!

Apa tujuan kalian mendirikan net-label ini?

Untuk berbagi bersama dengan sesama.

Ok, kalian menyatakan bahwa Yes No Wave Music ini juga sebagai dokumentasi musik cutting edge di Indonesia. Apa yang melatarbelakangi kalian dengan hal tersebut?

Wah anda terburu-buru menafsirkan! Pernyataan itu hanya untuk rilisan kompilasi kami ‘Music Beyond No Borders Vol. 1’. Bukan konsep label ini sepenuhnya dan cutting-edge disini bukan dalam artian eksplorasi terkini dari musikalitasnya tapi lebih pada konsepsi sebuah band yang sepakat dengan gerakan ‘all for one and one for all’ tadi.

Bagaimana menurut kalian perkembangan musik digital bagi kondisi industri musik Indonesia?

‘Industri’ musik digital ini tidak akan menghancurkan industri musik disini yang sudah sangat mapan. Mereka paling hanya rugi 20-30% lah tapi nggak akan bikin mereka mati dan bangkrut. Masyarakat kita kan termasuk cukup fetish terhadap benda2 fisik yang katanya ‘original’ atau ‘asli’! Toh banyak label rekaman besar disini yang memproduksi rekaman artisnya dengan kualitas produk bajakan dan mengedarkannya di pasar bajakan. Seperti halnya dengan beredarnya suratkabar online yang nyatanya tidak mempengaruhi oplah penjualan versi cetaknya.

Karakter/ genre musik yang bisa sign dengan Yes No Wave Music apa aja? Syarat apa saja yang mesti dipenuhi?

Tidak seperti netlabel pada umumnya yang selalu identik dengan musik elektronik atau laptop musician, kami lintas genre asal tidak asal2an aja musiknya. Pengennya sih band2 yang progresif entah mau lo-fi atau hi-fi. Karena user sebenernya kan ga bener2 gratis, mereka tetep membayar koneksi internetnya! Cuman ada satu syarat: Sepakat untuk mendistribusikan karyanya secara gratis melalui jaringan internet dan sadar sepenuhnya bahwa metode ini sangat rawan untuk dibajak.

Apa sih modal yang diperlukan buat membuat sebuah netlabel?

Kalo mau bayar, sediakan duit kira2 700 ribu untuk beli domain dan sewa hosting selama setahun. Untuk yang gratisan, situs macam MySpace dan Multiply bisa dipake sebagai kantor dan toko.

Ok, kalian bisa memberikan tips tentang bagaimana membuat sebuah net-label?

– Pahami konsep opensources (http://www.opensources.org)

– Pelajari baik2 metode hak cipta (copyleft, copyright, share-alike, dll) di Creative Commons License (http://www.creativecommons.org) dan pastikan semua rilisan anda menggunakan lisensi mereka baik lagu dan artworknya.

– Gunakan The Internet Archive (http://www.archive.org) untuk menaruh file2 lagu dan artwork. selain untuk menghemat kapasitas hosting kalian, situs ini mendukung lisensi Creative Commons dan memiliki jaringan netlabel dunia.

– Gunakan program ID3 Tag editor untuk mengisi metadata pada file lagu mp3. Meskipun cuman mp3, perlakukan lagu ini dengan baik dan layak dengan mengisi informasi judul lagu, album, lirik lagu, komposernya, cover album, dll. Program pemutar lagu MusicMatch Jukebox sangat advanced di bidang ini.

– Install program ccPublisher. Ini adalah sebuah software bikinan Creative Commons untuk meng-upload file2 anda ke Internet Archive sekaligus mendaftarkan lisensi file di CC. Download program ini di situs CC.

– Bekerjasamalah dengan sahabat2 anda yang anak band/musisi untuk menjadi artist di label kalian karena tidak mudah mendapatkan band/musisi yang sepakat dengan model netlabel di negeri yang masih ndeso dan serakah ini.

– Jalinlah hubungan dengan netlabel2 lain untuk saling berbagi rilisan dan artis/band/musisinya.

Yang gw tangkap dari net-label model gratis atau free akan gak ada duitnya… nah, kalau masalah finansial agar si net label ini bisa terus survive kalian darimana aja?

Bikin merchandise! Seperti saya bilang tadi, masyarakat kita adalah masyarakat fetish. Mayoritas penggemar musik sejujurnya lebih suka belanja t-shirt band (entah itu idolanya atau emang lagi ‘in’) daripada beli rekamannya.

Apa kalian punya referensi/ role model dari net-label di luar Indonesia?

Oh, tentu saja ada: Opsound! (http://www.opsound.org)

Ok, bisa kalian jelaskan terlebih dahulu dengan pengertian Creative Common License tersebut karena biasanya yang namanya free-music berbenturan dengan masalah hak cipta?

Creative Commons License adalah sebuah lembaga lisensi untuk karya2 digital baik itu tulisan, gambar, film/video dan musik. Mereka memiliki beraneka ragam pilihan lisensi dan satu karya bisa mencakup 2-3 karakter lisensi untuk memperlakukan karya tersebut. Ketika mendaftarkan sebuah karya, akan dihadapkan pada pilihan: apakah anda mengijinkan untuk keperluan komersil, apakah diijinkan untuk dimodifikasi oleh orang lain, dan ada pilihan Negara. Tapi sayangnya Indonesia belum masuk list mereka. Setelah terdaftar, anda berhak dan wajib memasang icon lisensi karya anda di tempat anda menaruh karya tersebut. Saat ini mereka sedang mengembangkan sebuah program yang bisa mengaplikasikan icon (atribut) lisensi tersebut secara embed (nempel) di tubuh file.

Jadi inti dari lisensi mereka adalah ijin (permission). Jika anda ingin menggunakan karya yg berlisensi CC, anda diwajibkan untuk minta ijin dari si empunya atau sekedar memasang icon (atribut) lisensi pada karya/situs anda. Dengan mendaftarkan karya digital anda di CC, anda sudah cukup menjadi manusia yang beradab. Eksploitasi? It’s not your sin anyway. Honestly, who can stop piracy? Apakah bangsa kita sudah cukup siap tanpa adanya pembajakan dan barang bajakan?

 

Rencana ke depan?

Yes No Wave Music adalah proyek seni jangka panjang saya. So, just keep going on! Makanya, buka situs kami dan tekan Ctrl+D!

Ok, sip thnx a lot…

Mari berunduh ria dan berbagi bersama-sama!

—Wawancara ini diterbitkan di Ripple Magazine #55 The Fight Issue, 2007

Artikel disunting oleh Wok The Rock, 2012

Oleh Idhar Resmadi