Prolog:

Pati Rasa Records adalah sebuah Netlabel yang berasal dari kota Yogyakarta. Netlabel ini berdiri sekitar akhir tahun 2010, yang malah diawali dengan sebuah rilisan fisik. Rilisan fisik tersebut mengawali sekaligus mengilhami semua kegiatan Pati Rasa Records sebagai sebuah NetLabel yang benar-benar bergerak di Media Internet. Berikut ini adalah sebuah wawancara saya dengan Admin atau bisa kita sebut Owner dari Pati Rasa Records yaitu Wednes Mandra.

“Nikmatilah musik sebisa kalian, jangan termakan propaganda gengsi yang mengharuskan ini dan itu”

” Jangan berhenti untuk berbagi”

1. Menurut Wednes, apa sih perbedaan antara Netlabel dan Label ‘Normal’ yang ada di Indonesia ? Menurut kamu lebih asik yang mana dalam konteks band-band yang dirilis ?

Pada intinya sama ya, sama sama merilis bebunyian. Perbedaannya ya medium perantara ke telinga pendengarnya aja. Kalo netlabel ya merilis melalui Internet, kalo Label ’Normal’ merilis melalui sesuatu yang mungkin harus ada persyaratan, lebih ke fisik. Kebanyakan netlabel yang saya ketahui merilisnya secara free di internet, atau mungkin memang semuanya free? Hahaha. Sama sama asyik aja, label normal yang berani merilis band band asyik juga ada. Netlabel juga asyik.

2. Pastinya ada kendala-kendala dong dalam kepemilikan netlabel, menurut kamu kendalanya apa aja sih dalam mengerjakan projek netlabel Pati Rasa Record milik kamu ?

Kendala besarnya gak ada, kendala kecil mungkin dari membagi waktu dengan kehidupan sehari hari, karena saya gak sepenuhnya juga mengkonsentrasikan diri ke netlabel ini.

3. Aslinya tujuan kamu membuat netlabel Pati Rasa Record sendiri apa sih? Apa ada tujuan-tujuan yang memiliki landasan ideologis yang cukup serius dalam tujuan itu ?

Alasan utamanya karena ingin berbagi aja. Awalnya kan sempet ngrilis fisik dulu akhir 2010. Tapi kok kayaknya gak bakal bisa konstan ngrilis bentuk fisik gitu. Jadi waktu itu ngeliat netlabel baru juga dari Malaysia, namanya Devil Noise Records, wah jadi tertarik bikin kayak gitu juga secara iseng. Trus aku contek aja tuh kata kata di profile page facebooknya Devil Noise :p Jadilah Pati Rasa. Tambahin Records belakangnya biar keren. Gak ada landasan ideologis yang cukup serius dalam Pati Rasa, apa yang terjadi biarlah terjadi…

4. Ada seleksi tersendiri gak untuk project-project atau band-band yang dirilis oleh Pati Rasa record ?

Seleksinya sih tetep ada tapi skalanya kecil. Yang jelas kami lebih tertarik untuk merilis musik musik yang mempunyai skala perhatian sangat rendah. Kami juga tidak akan merilis musik yang dalam perwujudannya sangat potensial untuk maju ke industri musik besar. Lebih baik dirilis sama label yang lebih menjanjikan saja, karena akan sangat mubadzir bila dirilis melalui Pati Rasa. Hahaha

5. Kenapa harus memilih tokoh-tokoh dari Smack Down untuk menjadi salah satu icon Pati Rasa Records ?

Dari SD emang udah suka sama Smack Down. Temen lain pada suka bola, saya tidak karena saya lenjeh di bidang persepakbolaan. Dulu sempet pengen jadi sosok Undertaker yang seram itu, supaya tampak cool. Nah spiritnya kebawa sampai sekarang, hahahaha.

6. Menurut kamu perkembangan Netlabel di Indonesia sekarang ini gimana sih ? Tolong minta kritiknya dong hihihi

Wah pesat sekali bro, sekarang banyak netlabel juga. lama-lama tiap kabupaten punya netlabel juga. Yang jelas, tetep lanjutkan aja perjuangan teman teman netlabel semua karena masing-masing pasti punya misi sendiri-sendiri. Jangan berhenti untuk berbagi

7. Bisa sharing ga pengalaman mengesankan, atau menyebalkan dalam dunia netlabel yang kamu geluti sekarang ?

Gak bisa, semuanya biasa biasa saja.

8. Denger-denger Pati Rasa Records ada rencana untuk bubar nih, beneran ?

Ada, pinginya sih secepatnya, tapi tanggal yang tepat buat bubar pun harus dipersiapkan. Kami gak mau berlama-lama mengurus semua ini.

9. Rekomendasi rilisan yang ada di Pati Rasa Records sama rekomendasi Netlabel lokal dong :)

Kill My Aquarian Soulmate – Demo Part 2, My Dear Are Enemy, sama Kompilasi Jogja Noise Bombing.

Untuk netlabel lokal: Yes No Wave, StoneAge Records

10. Any last words for the readers ? :)

Nikmatilah musik sebisa kalian, jangan termakan propaganda gengsi yang mengharuskan ini dan itu.

Oleh Hilman Fathoni