Mulai Februari 2011 Radio Buku eksis online dan dapat diakses melalui daring www.indonesiabuku.com atau www.radiobuku.com.  Radio buku mengudara dari Selasa sampai Sabtu, pukul 13.00–17.00 dan 19.00-21.00 WIB. Radio Buku mengusung visi “Memasyarakatkan Buku Lewat Radio”. Karena itu, motto radio online ini  adalah “Mendengarkan Buku”. Di sini, buku bukan hanya dibaca, tapi juga bisa didengarkan. Info yang diwartakan di radio ini,i berita sekitar buku, harga buku, isi buku, dan kajian-kajian buku kepada seluruh masyarakat yang tersambungkan dengan internet. Tak ayal lagu ini bertagline ”mendengarkan buku membuka cakrawala”

1. Bisa ceritakan sejarah Radio Buku dan kaitannya dengan [i:boekoe]

Radio Buku merupakan salah satu program dari Indonesia Buku. Pengembangan dari Warung Arsip. Tugas Radio Buku adalah arsip dan publikasi suara. Gelaran Ibuku merintis Radio Buku berbasis internet atau biasa disebut dengan Live Streaming. Radio Buku Live Streaming adalah radio berbasis internet pertama di Indonesia yang mengangkat tema perbukuan dan seputar buku. Diawali dengan pembuatan studio radio yang representatif untuk rekaman dan siaran pada Bulan Oktober 2010. Setelah pembuatan studio radio, dua bulan berikutnya adalah persiapan-persiapan diantaranya masalah manajemen dan program. Pada Bulan Januari 2011, Radio Buku online, namun masih dalam taraf uji coba.

2. Bisa bantu mendefinisikan Radio Online?

Radio Online adalah radio alternatif, merupakan webcasting karena tidak menyiarkan secara luas melalui sarana nirkabel. Radio online memiliki sebuah media streaming yang dapat menyediakan saluran audio terus menerus dan tidak ada kontrol operasional penyiaran seperti media penyiaran tradisional pada umumnya.

3. Kenapa memilih Radio Online sebagai media?

Menjamurnya pengguna internet di Indonesia menjadi salah satu alternatif kenapa memilih media online. Di segala tempat siapa saja sudah dapat menggunakan media internet dengan leluasa. Selain itu, streaming juga mewajibkan materi siar harus rekaman sehingga dapat dijadikan sebagai arsip.

4. Apakah Radio Online membutuhkan legalisasi seperti radio dengan gelombang mengingat maraknya penutupan Radio Komunitas yang dinilai ilegal oleh pemerintah?

Untuk jalur hukum, legalitas dalam hal apapun diperlukan. Dan Radio Buku merupakan radio legal sehingga bisa mendapatkan bantuan dari pemerintah.

5. Radio Buku memiliki studio dan perlengkapan seperti layaknya radio dengan gelombang, bisa diceritakan proses pengadaannya?

Prosesnya tentu saja perlahan. Tidak langsung dipenuhi seketika. Mulanya dengan komputer yang jadul, lalu beli mixer, dan lain sebagainya. Semuanya bertahap.

6. Hambatan teknis selama menjalankan Radio Online?

 Belum memiliki program instalasi siar yang legal. Selama ini masih memakai program yang gratisan dan dapat di-download di internet, jaringan internet yang kadang-kadang turun, dan listrik yang kadang-kadang mati.

7. Content (program acara) Radio Buku apa saja?

Buku Pertamaku, Angkringan Buku, Katalog Seni, Komunitas, Cine Book, Cerita Bersambung, Kanon Sastra (Pembacaan Karya Sastra), Kabar Buku, Jurnal Republik, Kronik Indonesia, Buletin Suara Buku

Siar dari Selasa sampai Sabtu, dari jam 13.00 hingga 21.00 WIB.

8. Kalian mengangkat komunitas dan individu yang peduli dengan literasi, kenapa?

Buku sebagai sumber ilmu memiliki kisah yang luar biasa di belakangnya. Dan orang-orang yang berada di baliknya adalah pahlawan yang jarang disebut-sebut. Nah, di sinilah peran radio buku. Menyiarkannya agar orang tidak mudah melupakannya. Apalagi sebentar lagi akan diluncurkan Buletin Suara Buku (mendengarkan radio buku secara offline)

9. Sebagai radio pertama yang mengangkat tema perbukuan apakah jumlah booklovers signifikan?

Jumlah Booklovers yang terdeteksi makin banyak. Hal ini terlihat dari jejaring sosial sebagai salah satu media interaksi antara radiobuku dengan booklovers. Interaksi itu terjalin terus menerus, bahkan ketika radiobuku sedang offair. Juga terlihat dari banyaknya Booklovers yang ingin menjadi narasumber dan juga mengirimkan buku ke radiobuku.

10. Bagaimana respon dari para narasumber yang diundang oleh Radio Buku untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman?

Nyaris seluruh nara sumber kami mintai testimoni. Macam-macam tertimoninya, tapi seluruhnya mendukung adanya radiobuku. Satu-satunya radio yang bertemakan buku. Kami pernah kedatangan tamu tunanetra, dan dia merasa bersyukur karena buku tak hanya dibaca, tapi juga didengar.

11. Bagaimana dengan pemilihan lagu dan buku yang akan dibagikan? Mungkin ada sistem kuratorial?

Tidak ada kurator. Yang jelas, pada jam-jam regular antara jam 13.00 – 17.00 dan 19.00 – 21.00, yang diputar adalah lagu-lagu berbahasa Indonesia. Di luar jam regular, lagunya bebas akan tetapi disesuaikan dengan tema nara sumber atau permintaan dari nara sumber.

Begitu pula dengan buku, yang merasa Booklover bisa mengisi atau mengirimkan buku untuk dibicarakan di radiobuku.

13. Bagaimana manajemen keuangan dan administrasi (pengarsipan) Radio Buku?

Admin Radio Buku sekarang ada 3, Muhidin M Dahlan (Direktur Utama), Fairuzul Mumtaz, dan Nadia Aghnia Fadhilla. Akan tetapi, masalah keuangan masih menjadi satu dengan Indonesia Buku.

14. Ada kriteria khusus dalam pemilihan penyiar?

Harus Booklovers

15. Radio Online sebagai salah satu bukti bahwa distribusi pengetahuan adalah tidak terbatas dan gratis, bagaimana pendapat Anda?

Setuju. Akses informasi adalah hak bagi manusia mana saja.

16. Bagaimana dengan maraknya Radio Online di Indonesia? 

Yang perlu diperhatikan adalah kelestariannya. Radio Online yang merupakan radio alternatif yang muncul karena ketidakpuasaan terhadap radio komersil, terlalu banyak pertimbangan, terutama sekali soal bagian bisnis. Dan Radio online ini merupakan media alternatif untuk menyiarkan ideologi dan karya komunitas.

Oleh Anitha Silvia