Empat tahun lalu, saat  mulai tertarik mendalami isu-isu seputar musik Indonesia, saya tertegun membaca salah satu artikel di majalah Rolling Stone Indonesia edisi Oktober 2008. Ketika saya membaca review mini album Ku Nobatkan Jadi Fantasi milik The Upstairs, saya bingung campur heran. Album itu bisa diunduh gratis langsung di situs label rekaman yang merilis album tersebut. Tanpa biaya sepeserpun. Maaf tepatnya tiga ribu perak karena saya harus ke warnet terdekat. Selebihnya saya bisa menikmatinya dengan cuma-cuma. Itulah perkenalan awal saya dengan konsep netlabel.

Hanya dalam kurun sepuluh tahun telah terjadi satu perubahan besar dalam industri musik, tak terkecuali di Indonesia. Jika dulu musisi mati-matian menutup rapat karyanya sebelum dirilis secara resmi, kini mereka justru dengan senang hati membagikannya secara cuma-cuma. Secara pribadi saya melihat fenomena ini sebagai pemutarbalikan konsepsi yang selama ini dianut.

Ketika sebuah karya secara resmi dirilis untuk konsumsi publik, maka ada hak yang kemudian melekat di sana. Hak ini dimaksudkan agar seniman mendapat penghargaan yang layak atas karyanya terlebih saat karya tersebut diapresiasi orang banyak dan mendapatkan keuntungan ekonomis. Hak ini disebut sebagai hak cipta atau copyright. Namun apakah benar hak cipta ini pada akhirnya benar-benar menjamin hak seniman?

Persoalan tentang hak cipta tentu membutuhkan tulisan yang lebih mendalam lagi. Namun saya ingin menggarisbawahi bahwa dengan makin banyaknya musisi yang secara sukarela mempersilahkan karyanya untuk dinikmati secara gratis kita kembali kepada konsep awal manusia sebagai makhluk sosial. Sebagai entititas yang membutuhkan kehadiran entitas lain untuk kelangsungan hidupnya. Sebagai sosok yang mau tidak mau saling berbagi.

Berterimakasihlah kepada musisi, netlabel, atau webzine yang selama ini telah mengembalikan konsep musik sebagai suatu medium seni universal yang bisa dinikmati secara bersama.

Rumah Besar yang Rapuh

Diantara riuhnya perubahan dalam industri musik tadi, sebetulnya ada kenyataan yang tak terlihat dari terangnya lampu pentas. Bagaimana industri sebesar ini tidak punya rekaman sejarah yang memadai. Saya selalu merasa iri campur miris tiap masuk Duta Suara Jalan Sabang, Jakarta. Ada banyak rilisan ulang dari band-band seperti Queen, The Beatles atau Led Zeppelin. Tapi ketika saya mencari album pertama milik Pure Saturday misalnya, alamak susahnya.

Ketika saya melakukan reportase guna penulisan feature panjang untuk majalah Rolling Stone Indonesia bulan Mei tahun 2010 lalu, saya mendapati kenyataan ada yang tak beres dengan pengarsipan musik Indonesia. Saat mengunjungi Lokananta, perusahaan rekaman tertua milik pemerintah, saya mendapati puluhan ribu piringan hitam hasil rekaman sejak tahun 1957 berada dalam situasi mengenaskan. Keping vinyl yang sensitif pada suhu tropis hanya disimpan di ruangan bersirkulasi udara minim. Untuk mengusir bau apek dan serangga, digunakan teknik tradisional. Bubuk kopi dicampur kapur barus.

Tahukah anda apa yang ada di dalam keping-keping vinyl itu? Ada lagu daerah dari semua stasiun RRI di seluruh Indonesia. Kelak rekaman ini sangat berguna ketika tensi hubungan Indonesia-Malaysia meninggi saat Negeri Jiran itu mengklaim lagu Terang Bulan dan Rasa Sayange sebagai milik mereka. Ada pula rekaman pidato presiden Soekarno di Konferensi Asia Afrika 1955. Bukan itu saja, ketika Roy Suryo dengan jumawa mengatakan dirinya menemukan lagu Indonesia Raya dalam tiga stanza di Belanda sana, Lokananta ternyata sudah menyimpannya.

Pun jika dirunut lebih jauh, dari pendiriannya, Lokananta sebetulnya bukan dimaksudkan sebagai tempat pengarsipan musik Indonesia. Lokananta adalah perusahaan rekaman dan piringan hitam yang awalnya bertugas merekam lagu-lagu daerah seluruh Indonesia dalam format piringan hitam. Berbeda dengan saudaranya, Sinematek Indonesia, yang memang dimaksudkan sebagai lembaga pengarsipan. Sinematek menyimpan dokumentasi perfilman Indonesia, mulai dari materi film, skenario, poster film hingga surat undangan preview film. Untuk menyimpan koleksi film, terdapat ruang penyimpanan khusus yang mempunyai tingkat kelembapan tertentu untuk menjaga film tetap awet.

Tidak ada koleksi lagu daerah di Indonesia ini yang lebih lengkap dari Lokananta. Sayangnya tidak banyak dokumentasi dan pengarsipan yang jelas tentang album yang sudah dikeluarkan oleh Lokananta dalam setengah abad terakhir. Apalagi melakukan pendataan ulang terhadap ribuan koleksi lagu yang dimiliki Lokananta bukanlah perkara mudah. Diakui atau tidak, sejak awal hingga saat ini Lokananta tidak memiliki standar pengarsipan yang jelas. Banyak sekali dokumen dan perjanjian dengan artis yang saat ini tidak bisa ditemukan lagi.

Beruntung, atau mungkin ironis, kepedulian datang dari seorang peneliti asing. Phillip Yampolsky dalam disertasinya yang berjudul Lokananta: A Discography of The national Recording Company of Indonesia 1957-1985 merunut dengan baik semua koleksi Lokananta. Ia melakukan penelitiannya pada tahun 1980-1982 sebagai disertasi untuk University of Wisconsin. Buku Phillip inilah yang sekarang menjadi kitab suci untuk menelusuri seluruh arsip rekaman yang dimiliki oleh Lokananta.

Gagasan Arsip Musik Indonesia

Memang ironis. Negara yang punya presiden gemar menyanyi, punya empat album studio serta didapuk menjadi Ketua Dewan Pembina Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) periode 2012 – 2017 ini industri musiknya tidak memiliki sistem pengarsipan yang baik.

Lebih membuat dada sesak lagi jika dihadapkan pada kenyataan bahwa  sejak tahun 2009 lalu industri musik merupakan salah satu subsektor dari 14 jenis industri kreatif yang masuk dalam cetak biru industri kreatif Indonesia dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Tahun 2005 sempet terdengar kabar beberapa jurnalis musik seperti Denny Sakrie, Remy Soetansyah,Theodore KS, Denny MR, dan Hans Miller menggagas lembaga arsip musik untuk mencatat dan mendata seluruh sejarah musik Indonesia agar karya-karya seluruh musisi Indonesia tidak hilang ditelan zaman. Pada 2007, musisi cum politisi Tantowi Yahya sempat serius ingin mewujudkan Museum Musik Indonesia. Namun masalah klasik menjadi penghambat. Dana.

Terdengar klise mungkin, tapi saya percaya tiap persoalan selalu ada jalan keluarnya. Yang penting adalah ada niat ke arah sana.

Ada beberapa alternatif yang bisa menjadi solusi. Pertama adalah memberdayakan stasiun-stasiun radio siaran. Stasiun radio siaran tentu punya koleksi lagu dalam berbagai format mulai dari CD, kaset, bahkan piringan hitam. Sayangnya saat ada alih teknologi, arsip-arsip rekaman tadi dibiarkan berjamur di gudang.

Saya pernah mendatangi sebuah stasiun radio lokal di Magelang untuk penggarapan tugas mata kuliah. Saya diajak masuk ke ruang penyimpanan koleksi oleh salah satu staff. Disitu saya melihat ratusan bahkan ribuan kaset tertata rapi di rak lemari. Dari debu yang pekat menempel di wadanya, tumpukan koleksi ini jelas sudah lama tak terpakai “Kalo mas mau beli silahkan. Kita jual murah wong sudah gak kepake setelah pindah ke mp3,” kata staff yang mengantar saya tadi.

Peran perpustakaan kampus juga menarik untuk dijadikan sebagai lembaga pengarsipan alternatif. Di Amerika Serikat, perpustakaan-perpustakaan universitas di negeri Paman Sam itu mempunyai perpustakaan musik. Duke University misalnya. Ada 25 ribu rekaman dalam berbagai format, 120 ribu naskah tentang musik (buku, jurnal dan music sheet), dan 130 ribu mikroformat. Sedangkan perpustakaan University of Virginia mempunyai koleksi lebih dari 135 ribu rekaman, music sheet, dan buku untuk mendukung riset-riset tentang musik.

Terkait dengan keberadaan netlabel dewasa ini, saya mengambil contoh apa yang dilakukan oleh Frau, solois cum pianis berbakat asal Yogyakarta. Frau sebelumnya mengunggah lagu-lagu karyanya via MySpace. Sambutan hangat dari publik membuat Frau memutuskan untuk membagi karya-karyanya secara gratis. Setelah di mixing ulang, pada bulan Mei tahun 2009 enam lagu pilihan dirangkum dalam album Starlit Carousel yang bisa diunduh gratis di netlabel Yes No Wave. Tak berselang lama, setahun kemudian versi fisik dengan kemasan yang ciamik dirilis dibawah label Cakrawala Records dengan bantuan distribusi dari Demajors.

Saya tidak akan membawa tulisan ini ke ranah perdebatan karya fisik versus file digital. Menurut saya sudah bukan saatnya untuk menentukan mana yang terbaik dari keduanya karena masing-masing saling melengkapi. Hanya saja saya ingat Frau mengeluarkan jawaban cerdas saat saya mewawancarainya untuk artikel di situs Jakartabeat.net. “Apa jadinya kalau ga ada artefak dari sesuatu yang kamu dengarkan pada saat ini di masa depan. Mosok kenang-kenangan dalam bentuk file sih …”

Saya pribadi berharap setiap netlabel membuat versi fisik dari setiap rilisan digitalnya. Apakah materi fisik tadi juga akan disebarkan secara gratis juga atau ada penggantian ongkos produksi itu persoalan lain. Yang lebih penting adalah agar netlabel mempunyai sistem pengarsipan yang baik. Mempunyai rekaman sejarah yang sifatnya tangible.

Terlebih lagi semangat creative common yang jadi landasan, tentu akan mempermudah akses publik untuk memperoleh informasi. Suatu hal yang selama ini sulit dilakukan oleh publik ingin mendapat informasi lengkap ke pihak label rekaman. Sebagai gambaran, sulit untuk mendapat hitungan pasti berapa keping penjualan album fenomenal Bintang Di Surga milik Peterpan. Lebih jauh , arsip-arsip fisik tadi bisa menjadi suatu penanda zaman. Bahwa telah terjadi sebuah perubahan besar-besaran di industri rekaman Indonesia.

Semoga dengan adanya arsip musik Indonesia, perubahan di industri musik Indonesia bukan sekedar euphoria sesaat yang kemudian hilang karena landasan sejarahnya rapuh. Adalah sesuatu yang menggelikan kalau album rekaman presiden kita, yang bahkan menjadi salah satu syarat masuk pegawai negeri sipil, akhirnya hanya bisa ditemukan di lapak-lapak penjual album rekaman bekas.

Oleh Fakhri Zakaria

Tentang Penulis

Fakhri Zakaria menulis untuk situs Jakartabeat.net, Rolling Stone Indonesia, dan Hujan Radio. Sibuk dengan aktivitas mengorbitkan teman-teman dekat lewat bendera Republik Primata Management, menonton film-film Warkop DKI dan video dangdut koplo Pantura, serta menjaga warung kecil di  www.warungmasjaki.wordpress.com . Jika sedang selo mengisi waktu sebagai pegawai negeri sipil di sebuah institusi riset milik pemerintah. Dapat dihubungi di  fakhrizakaria@yahoo.com