Mas, ini lagunya siapa?

Oh ini, RATM, Rage Against The Machine

Kalau yang ini siapa nih yang main bass ? kenceng banget mainnya.

Wah kalau itu Primus

 

Dapet darimana sih musik musik aneh kayak gini ?

Ini dapet ngrekam dari teman, trus ada juga yang nitip dibelikan pas lagi jalan diluar negeri.

Cuplikan percakapan yang terjadi beberapa tahun lampau di sebuah kamar kost. Percakapan kecil yang membuka mata, bahwa di tahun tahun yang telah lampau, betapa susah mendapatkan rekaman rekaman musik dengan isi yang ajaib. Contoh gampangnya adalah rekaman pertama Rage Against The Machine di album dengan cover fenomenal biksu yang membakar diri serta ganasnya permainan bass dari Primus . Ini contoh kecil – dalam istilah saya – gaya bermusik  ajaib yang sangat susah ditemukan di dunia musik Indonesia saat itu.

Dulu di Indonesia, hanya arus utama musik yang mendapatkan perhatian, pop, jazz, dan rock. Itu saja dan selesai. Akan tetapi derasnya arus informasi yang masuk dari internet sampai MTV memberi sedikit terapi pada sedemikian banyak pemusik di Indonesia dengan banyaknya konsep dan aliran bermusik. Apalagi di era sekarang ini,  genre musik semakin “meriah” dengan istilah yang dibuat para jurnalis atau pemusik/band sendiri. Nama-nama genre itu british pop, metalcore, thrash core, electronic core, alternative pop, hardcore punk, 8bit dan masih banyak lagi subgenre yang terbentuk dari arus musik utama tadi.

Di Indonesia, sebenarnya, potensi musik sudah sedemikian berkembang pesat. Di banyak kota kecil, banyak bermunculan pemusik dan band-band dengan kreativitas yang bagus. Ini dipicu oleh fasilitas, seperti peralatan musik, kemudahan akses seperti internet dan komputer tentunya.

Dulu untuk rekaman satu lagu saja susahnya minta ampun. Belum lagi, biaya sewa studio rekaman sangatlah mahal. Kini hanya dengan bermodalkan laptop ataupun pc rumahan, seseorang bisa membuat karya musiknya dengan hasil yang menakjubkan.

Dari sekian banyak aliran musik yang masuk dan mempengaruhi gaya bermusik artis/band di negeri ini, sialnya hanya beberapa saja yang bisa sampai menembus major record label. Itupun dengan berbagai macam prasyarat. Yang jelas musiknya harus layak jual, komersil dan tidak sampai merugikan record label.

Akhirnya muncul label label independent yang mewadahi mereka yang tidak masuk dalam kriteria “layak jual” dari major label. Belakangan, malah banyak diantara label independen ini yang memunculkan band band “ajaib” dengan musik berkualitas. Berkualitas juga sebenarnya juga tergantung selera pendengar dan penikmat juga. Akan tetapi, jumlah penjualan album berupa compact disc ataupun kaset tape bisa menjadi bukti maraknya rilisan dari independen label tersebut.

Lalu muncul netlabel —label berbasis internet sekaligus baru dari proses promosi dan distribusi musik. Netlabel ini sebenarnya bentuk perlawanan dari kapitalisasi musik. Orang membuat band, membuat musik dengan semangat yang berbeda, keinginan menyebarluaskan karya musik dengan membebaskan orang mengunduh dan membagikannya secara gratis dan legal.

Dulu ketika saya masih tinggal di kota kecil bernama Jember, sebenarnya  saya menjumpai banyak band bagus, band dengan kualitas musikal yang bagus. Namun, karya mereka ini tidak diketahui banyak orang. Hasil karya mereka paling juga bisa dinikmati oleh segelintir orang saja. Bahkan lebih banyak tersimpan dan membusuk di harddisk komputer. Mereka Mengirim compact disc ataupun paket kaset tape ke radio untuk promosi. Ternyata radio juga bakalan pilih-pilih. Pasti ada mini sensor, kira kira lagu mana yang layak untuk diputar.  Lagu yang tidak layak putar pasti akan tergeletak di gudang penyimpanan lantas membusuk bertahun-tahun tanpa pernah didengarkan.

Trik yang dipakai jaman dulu ya paling mainan friendster. Namun dengan kualitas bandwith internet saat itu, siapa juga mau streaming lagu dengan kondisi megap-megap, buffering yang lamanya bisa bikin orang ngamuk. Cara distribusi lain adalah dengan menitipkan lagu di warnet untuk diputar oleh penjaga warnet.  Lagu Bisa dikopi dan disebarluaskan ke user warnet bila ada yang menyukai dan ingin mendapatkan lagunya.

Netlabel  sebenarnya sebagai salah satu sarana untuk menyebarluaskan karya musik ke publik yang lebih luas. Karena bagi saya pribadi, fungsi netlabel adalah bagian dari promosi dan distribusi. Dan ini menjadi bagian yang serius. Karena promosi dan distribusi merupakan sesuatu yang luas cakupannya. Internet sekarang memang sudah menjadi bagian sehari-hari dari kehidupan kita. Akan tetapi, masih ada daerah-daerah yang masih belum terjangkau oleh fasilitas ini. Sekarang bagaimana caranya agar karya band band dan pemusik “pinggiran” ini bisa didapat dan didengarkan di tempat lain? Dari sini akhirnya netlabel bergerak.  Lantas, sepertinya ada tanggung jawab moral untuk itu. Niatan untuk memperkenalkan dan mendistribusikan karya musik sehingga bisa dinikmati kalangan yang lebih luas karena karya musik, seperti juga halnya karya seni yang lain sama sama memiliki hak untuk diperkenalkan, disebarluaskan seluruh informasi tentangnya.

Dari konsep seperti ini serta pengalaman pribadi, mau tidak mau saya harus membuka pikiran. Berpikir terbuka akan segala macam jenis, genre musik yang bertebaran saat ini. Jika awalnya yang hanya menyukai musik dengan hentakan kencang dan distorsi metal, saya mau tidak mau harus mendengarkan pop mendayu dayu, british pop, alternative, punk, ataupun bebunyian elektronik synthesizer . Bahkan, saya mendengarkan musik 8bit dari eksperimentasi sound games sampai noise yang benar benar dihasilkan dari soundscape dan eksperimen dengan alat alat elektronik seperti oscilator, efek, dan circuit bending.

Dari sini saja, sudah tambah banyak lagi subgenre yang dibangun hingga semakin sulit untuk mengklasifikasikan jenis musik. Menurut pendapat pribadi saya, Keterbukaan untuk menerima, mempromosikan dan mendistribusikan musik, adalah sebuah kewajiban dan sedikit banyak merupakan tanggung jawab moral dari netlabel, khususnya untuk mendukung distribusi musik secara legal. Malahan, pewartaan gerakan netlabel dan distribusi musik secara legal ini juga harus lebih gencar didorong melalui event online dan offline, promosi social media dan sebagainya. Ini bertujuan agar gerakan ini bisa dikenal semakin luas dan band/musisi/artis, serta pendengar dan penikmat musik tidak canggung lagi dengan istilah netlabel.

Oke, dan sekarang saya tidak susah mendapatkan musik musik bergizi semacam Rage Against The Machine, Primus, bahkan britpop rasa Indonesia!

Oleh Arie Mindblasting