Kaveh Kanes adalah nama baru di skena independen Yogyakarta. Grup ini unik karena mereka beranggotakan empat pemuda keturunan Yaman: Muhammad Asad Bisyir (vokal), Muhammad Najib Bisyir (drums), Rayyan Bughri (gitar) dan Zaimuddin Mukkarom (bass). Mereka terbentuk pada awal 2012 dan dalam waktu beberapa bulan saja sudah merilis sebuah digital EP di netlabel BFW Recordings, berisi empat lagu bernuansa lo-fi, bertempo upbeat dan kaya petikan gitar jangly 80-an. Meskipun ini adalah bentuk musik yang sedang marak di pesisir pantai Amerika beberapa tahun belakangan, namun di Indonesia belum banyak yang seperti mereka. Simak obrolan kami dengan para personil Kaveh Kanes seputar menjadi anak band di lingkungan keluarga arab, menjadi trend, menjadi vegan, dan free culture.

Video rooftop kalian di Youtube cukup unik. Kalian memutuskan pindah dari Yaman ke Yogyakarta karena di sana sepi gigs haha.. bisa ceritakan sedikit seperti apa di Yaman sana? 😉

Asad: Hampir ga ada apa-apa di Yaman, padang gurun tandus yg kadang-kadang diselingi kota di tengah gurunnya.Hiburan di TV juga adanya gitu-gitu aja, cuman video klipnya Omar Souleyman yg paling saya tunggu-tunggu. Tapi ya mau seburuk apapun tempat atau keadaannya ga ada yang pernah bisa ngalahin rumah.

Royyan: Kalau kita masih di Yaman mungkin Kaveh Kanes adalah grup Marawis.

Mumu: semua orang gampang kok mendeskripsikan kampung halaman kami (google) dan pastinya panas di siang hari sangat dingin di malam hari. Betul kata Royyan, kita selamat dari menjadi grup Marawis.

Saya suka mengkaitkan hal-hal yang saya lihat di kehidupan nyata dengan film-film yang pernah saya tonton. Film yang terintas ketika menonton video kalian di rooftop adalah Persepolis (ok, itu dari komik, tapi saya tahu filmnya duluan). Banyak persamaan antara kalian dengan Persepolis: animasinya digarap secara lo-fi, ada konflik idealisme religius dengan liberal, sedikit banyak berbicara tentang feminisme (kalian punya lagu tentang wanita). Apakah konflik-konflik yang dialami Marjane Satrapi juga kalian alami? Bisa ceritakan sedikit tentang konflik yang umum terjadi di kehidupan kalian dalam hubungannya dengan menggapai keinginan kalian dalam berkarya?  Bagaimana kalian menyikapi dan mengakalinya?

Asad: Ah! I love that movie, terutama pas bagian marjane nulis bagian belakang jaketnya dengan tulisan “punk is not ded!”. Cuman seperti semua orang tau selalu ada sinisme antara barat terhadap timur dan juga sebaliknya, padahal seharusnya ga perlu jadi sedramatis ini. Media selalu melebih-lebihkan masalah ini. Padahal ini cuman soal kultur masing-masing  yang berbeda. Kami mungkin anak-anak yg beruntung karena besar di lingkungan yg tidak terlalu mendoktrin. kami bebas memilih apa yg kami mau baca atau dengarkan atau tonton walaupun tetep ada catatan-cataran tertentu.

Royyan: Kalau kita masih di Yaman mungkin Kaveh Kanes adalah grup Marawis. [2]

Mumu: jika untuk persamaan, ada sedikit seperti quote dr Marjani : “In life you’ll meet a lot of jerks. If they hurt you, tell yourself that it’s because they’re stupid. That will help keep you from reacting to their cruelty. Because there is nothing worse than bitterness and vengeance… Always keep your dignity and be true to yourself.” Itulah yang kita rasakan saat kita kecil di sekitar lingkungan kita,dan itu alasan kenapa kita ingin membuat sebuah karya, karena kita bisa.

Zaim: Konflik Yang muncul adalah kurang diterimanya keberagaman antara sesama mahluk sosial. hal ini berimbas pada produk (karya) yang dihasilkan menjadi mirip, bahkan sama. Dalam menyikapi hal tersebut kami memikirkan untuk membuat sesuatu yang berbeda, ya seperti band yang personilnya turunan arab semua, dan genre yang kami usung ini.

Denger denger setengah dari Kaveh Kanes vegan, sementara kultur primordial Timur Tengah selalu dikelilingi makanan daging merah. Apakah hal ini pernah jadi masalah bagi kalian? Bagaimana tips sukses menjadi vegan dari Kaveh Kanes?

Asad: *Ngeliat ke arah Rayyan dan Mumu sambil makan Kebab Falafel.

Royyan: Ane lebih suka disebut intoleransi daging daripada vegan. Karena mungkin tidak banyak Yang seperti saya, menjadi vegan tanpa alasan politis. Saya tidak bisa makan produk olahan daging sejak kecil, kalau dipaksa akan muntah. Tips sukses menjadi vegan? Jangan terlalu berpolitik tentang apa yang kamu makan, jujur saja.. dengan begitu kamu tidak akan terbebani menjalankannya.

Mumu: Ane cuma bertahan 8 bulan saja hehe.

Zaim: Cuma satu orang sih sebenernya, dan itu bukan suatu masalah buat kami. Tips menjadi vegan yaitu “hargailah mahluk yang beranak (dan bertelur)”

Beberapa tahun terakhir jenis musik seperti kalian –terkadang jangly, terkadang fuzzy, terkadang synth-y, tapi most of the times low fidelity- lagi naik naiknya di pesisir pantai barat maupun timur Amerika Serikat. Bagaimana kalian sendiri mendeskripsikan musik Kaveh Kanes?

Asad: Jaman sekarang itu jaman yang lucu, kenapa? Karene awalnya kita mengartikan masa depan dengan mobil terbang dan segalanya Yang ada di film back to the future, tapi pada akhirnya dunia modern ini hanya sesimple menghasilkan foto kualitas thn 60-an dengan kamera yang baru diproduksi tahunn 2012. Kurang lebih itu juga yang pengen kita capai dengan kaveh kanes, kami ingin punya sound dengan kualitas tahun 80-an tapi kami hidup di tahun 2012.

Royyan: Kalau kita masih di Yaman mungkin Kaveh Kanes adalah grup Marawis. [3]

Mumu: Sebenarnya orang lain yang bisa mendiskrpisikanya,kita mah seneng-seneng aja

Zaim: Menurut kami, kenanya lebih ke indiepop. Orang sering bilang lo-fi, sebenarnya itu hanyalah proses mixingnya saja, bukan genre.

Bagaimana kalian menjawab sinisme tentang membawakan jenis musik yang sedang trend?

Asad: Haters will be haters, we just do what we wanna do.

Royyan: Marawis? Trend? Seriously.

Mumu: ngga suka?adu makan kebab/kebuli sama kita!!

Zaim: we don’t care.

Band band yang mereka sebut hipster banyak mengambil konsep musikalitas dari pop underground Inggris pertengahan 80-an. Sebutlah The Drums yang sering berbicara tentang The Field Mice, Beach Fossils yang mengcover The Wake, atau Girls yang mendedikasikan sebuah single untuk Lawrence Hayward. Bedanya, dengan konsep musikalitas yang (katakanlah) sama, dahulu jenis musik seperti ini segmentasinya sedikit dan terbatas di pergerakan pergerakan komunal, sementara kini diproduksi massal dan menjadi trend. Bagimana pendapat kalian tentang pola industri musik yang demikian? Apakah musik harus dibatasi segmentasinya atau kalian tidak masalah jika musik kalian suatu hari kerap menggema di warung burjo?

Asad: Di luar, mungkin saja musik seperti kami ini sedang trend, tapi di sini? Ada 200 orang yang tahu lagu kami aja kami sudah sangat senang.

Royyan: Kalau kita masih di Yaman mungkin Kaveh Kanes adalah grup Marawis. [4] dan di Yaman, tidak ada yang lebih mainstream dari Marawisan sambil makan kebab dan nasi kebuli. Tidak ada yg salah dengan menjadi besar, selama kamu tidak terlalu banyak drama. Stick to the music. Tidak usah dipedulikan kenyataan kalau kami ganteng. Tolong diganti judul artikelnya!!

Mumu: klo untuk trend di garis besar konsep musik/segmen tertentu keseluruhan akan mejadi tren dan itu tergantung dari band tersebut,mereka suka menjadi tren atau hanya ingin di pergerakan komunal saja. Jika masalah batas membatasi sebenarnya tidak perlu dibatasi asal tidak merubah musik dari sang musisi tersebut. Justru bagus jika musik kita menggema di burjo,siapa tau ada yang suka hehe

Internet menyebabkan transisi media dari cetak dan siar menjadi digital pada akhir 1990an. Sebagai generasi yang tumbuh besar ketika transisi terjadi, bagaimana kalian menyikapinya? Mengingat personil kalian juga ada yang bekerja di radio frekuensi, atas maraknya fenomena webradio misalnya.

Asad: Ngeliat banyak web radio yang memainkan playlist tanpa ada aturan yang terlalu ketat itu sangat menyenangkan, karena untuk radio komersil masih banyak aturan yang harus dipatuhi baik dari radionya sendiri ataupun dari komisi penyiaran. Ini bagus untuk jadi sebuah sub pilihan.  MTV pun punya MTV 2.  Mereka memainkan lagu-lagu yang tidak komersil. Web radio inilah yang jadi penyeimbang media-media major dan ga nutup kemungkinan di kemudian hari orang-orang yang bekerja di web radio bisa bekerja di media-media besar namun tetap membawa taste Yang dia punya sewaktu dia bekerja di web radio. (note:  Asad adalah announcer salah satu radio frekuensi paling besar di Jogja)

Royyan: Transisi digital pada akhir 1990an membawa semangat baru bagi musisi kiri seperti kami karena itu berarti munculnya lahan baru untuk menyebarluaskan musik kami. Ya memang lahan ini juga dimanfaatkan mereka yang sudah ada di titik mapan, tapi setidaknya peta kekuatan lebih berimbang sekarang. Tapi tetap, belum ada webradio yang memutar Marawis kan?

Kembali ke pertanyaan yang selalu saya lemparkan ke musisi mancanegara yang pernah tampil di Indonesia: kebanyakan dari mereka rilisannya tidak beredar di Indonesia, namun ketika tampil sambutannya luar biasa. Tentu hal ini tidak lepas dari peran budaya free sharing. Bagaimana menurut personil Kaveh kanes tentang free sharing ini?

Asad: Free sharing itu sangat keren. ada beberapa org yang apatis dengan budaya free sharing ini karena takut ga akan dapet pemasukan lebih besar tapi saya pikir mrk bodoh karena justru sekarang ini musik untuk semua orang dan bukan buat kalangan tertentu saja.  Ini juga menuntut para musisi buat mikirin gimana mereka punya bentuk fisik dari lagu mereka dengan kemasan yang layak utk dikoleksi.

Royyan: Ane rasa orang harus mulai menyadari bahwa free culture tidak seburuk anggapan orang pada awalnya. Banyak nilai positif yang muncul bersamanya. People should get access to music (and Marawis) in my opinion.

Saat ini korporat mengerahkan seluruh tenaga dan kekuatan finansialnya untuk merangkul skena mandiri. Gayung bersambut, berbagai event musik berbranding logo mereka. Menurut Kaveh Kanes gimana?

Asad: Yeah memang terlihat menyedihkan krn orang-orang yang membuat acara ini harusnya punya posisi tawar juga dan bukannya nurut aja sama kepentingan sponsor.kita ga nampik yang namanya gig dengan konsep yang bagus itu selalu membutuhkan dana yang besar juga. Nah mungkin ke depanya bisa lebih di pikirin lagi soal ngebuat gig yang ga asal branding tapi gimana caranya punya konsep yang ok juga di dalemnya.

Royyan: It’s fine selama ada proses filtering. Tidak semua support finansial harus kita terima dan tidak semua juga harus kita tolak. Bayi berusia 2 tahun di pedalaman Indonesia sudah merokok 40 batang perhari dan kita enteng-enteng aja membranding logo mereka? Skena independen di Yaman lebih kritis dalam hal ini.. tidak pernah dalam sejarah Marawisan bersponsor rokok.

Mumu: Menurut ane selama kontrol konsep kita yang pegang tidak masalah.

Zaim: Point terpenting yang harus disikapi yaitu, jangan sampai ada brand tertentu yang membuat musik sebagai wacana dan sarana untuk menggapai atau menggerakkan kita ke arah yang kurang baik. Contohnya yaitu penghambaan oleh para seniman atau musisi kepada brand atau rezim tertentu. yang itu hanya berkiblatkan pada uang. Atau seperti Yang disebut Royyan.

Yogyakarta beruntung memiliki komunitas Common People sebagai wadah kreatifitas musisi musisi indiepop, indierock dan juga shoegaze. Tidak semua pergerakan di kota lain didukung oleh sebuah komunitas. Menurut kalian, seberapa besar peran komunitas seperti Common People dalam mendukung band seperti kalian?

Asad: Common people memang sebuah komunitas yang kita butuhkan dan selalu bertahan dari masa ke masa dan selalu punya gig yang menyenangkan. Semoga ke depannya ga akan ada yang namanyagenerasi yang hilang di common people.

Zaim: Sebelas tahun Common People berdiri, dari zaman analog hingga digital, melahirkan band-band yang besar di kancah nasional maupun internasional underground semacam Bangkutaman, Brilliant at Breakfast, Answer Sheet dll tentu bukan pencapaian biasa. Kita beruntung lahir di komunitas semacam ini juga.

Bagaimana proses EP digital kalian, Arabia’s Frankincense Trail dirilis oleh netlabel BFW Recordings?

Asad: It was total luck.  Kami punya teman yang kebetulan sering berinteraksi lewat email dengan BFW records dan dia menawarakan kami.  Voila! kami dirilis oleh BFW.

Menurut kalian bagaimana peran netlabel dalam skena musik?

Asad: Sangat bagus karena ya itu tadi net label membuat musik lebih untuk semua orang dan membuat generasi sekarang mempunyai akses pada musik. Efek dominonya nanti bisa kita rasain 10 taun ke depan.

Zaim: Yang jelas bagi band seperti kami, 10 tahun lalu mungkin mempromosikan musik tidak semudah sekarang.

Apakah pihak BFW Recordings menjelaskan dengan baik bahwa rilisan kalian diberi lisensi Creative Commons?

Asad: Seingat ane tidak. Walaupun penjelasan tentang creative common ini sebenarnya dibutuhkan buat ngerti apa aja Yang jadi hak-hak kita dan apa Yang jadi hak-hak label.

Zaim: Karena korespondensi bukan melalui ane, ane tidak tahu. Tapi ada keterangan di website mereka kalau semua rilisan memiliki lisensi Attribution-NonCommercial-No Derivs CC BY-NC-ND Yang berarti semua orang bebas mengunduh asalkan ada credit kepada artis dan tidak digunakan secara komersil.

Mumu: Mereka hanya menjelaskan bahwa ini adalah lisensi nirlaba dari awal.

Menurut kalian apakah lisensi Creative Commons penting dipakai dalam berkarya?

Royyan:  Sangat penting. Ane setuju dengan slogan BFW Recording: “music is free”, dan ane pun ingin membuat musik Kaveh Kanes bebas untuk siapa saja. Namun tentu ada beberapa kondisi yang harus dijelaskan dan disepakati sejak awal. Nah itu semua tercakupi dalam lisensi Creative Commons yg mereka gunakan.

Rencana jangka pendek setelah ini?

Asad: Ingin merilis EP dalam format kaset yang collectible dan mungkin sedikit pesta di perilisannya hehe.

Oleh Arkham Kurniadi