Prolog

Bila ditanya tentang sejarah, mungkin Mindblasting Netlabel inilah yang sejarahnya berantakan. Berantakan?  Ya, karena bahkan pelbagai penanda penting seperti asal muasal serta tanggal lahir layaknya tanggal lahir bayi, atau hari penamaanmnya pun tidak pernah tertulis dan terpampang jelas. Karena itu, bertepatan dengan Indonesia Netaudio Festival ini, mungkin akhirnya Mindblasting Netlabel membuat sedikit catatan sejarah tentang lahirnya netlabel ini. Mindblasting berawal dari ide membuat sebuah webzine yang nantinya akan dipergunakan untuk publikasi, dokumentasi, info dan berita pergerakan musik di Jember. Karena saat itu memang belum ada webzine yang memberikan info tentang musik yang ada di Jember.

Di Jember, saat itu, ada beberapa komunitas yang menjadi wadah bagi pemusik dan band untuk berkumpul dan berbagi bersama, seperti komunitas band-band indie jember yang menamakan dirinya Finger (Kolektif Indie Jember), komunitas punk dan komunitas musik “underground”, Sacrificial Corpses (RIP). Kebetulan saja saat itu belum ada yang tertarik dan berminat membuat dan mengelola webzine ini.  Akhirnya dibangun jugalah webzine ini dngan mempergunakan hosting dan domain gratisan. pengisian content webzine lantas ini dimulai dengan. Bentuknya: info band, event, lagu, lirik dan foto foto dokumentasi tentunya. Karena segala sesuatu yang gratisan, terutama domain dan hosting ini, tidak bisa bertahan lama maka pergantian nama domain dan perpindahan hosting menjadi hal yang sering terjadi.  Kala itu, metode backup data website juga belum terlalu dikuasai. Imbasnya, beberapa database hilang. Ini diperparah dengan serangan virus pada komputer. Walhasil, pendokumentasian ini akhirnya menjadi sesuatu beban yang sangat berat.

Akhirnya atas bantuan seorang kawan, Khoirul Anam,  pemilik dari ilunk.com, domain indiejember.org beserta hostingnya dengan kapasitas dan bandwith yang memadai berhasil didapatkan.  Lantas,  gerilya tahap berikutnya  pun dimulai. Jember  adalah kota kecil di Jawa Timur yang kerap dikenal sebagai wilayah tapal kuda. Kota yang masuk dalam wilayah tapal kuda ini adalah Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Ketika pertama kali masuk ke Jember di tahun 1994,  saya ketahui saat itu banyak event parade atau pun festival musik. Dari sanalah saya mengetahui betapa dahsyatnya potensi skena musik daerah tapal kuda ini. Tapi setelah terlibat di berbagai acara musik, dan berkumpul dengan sekian teman, terutama band-band lokal,  selalu timbul pertanyaan: mengapa sih mereka hanya berkutat di kota sendiri. Jarang sekali ada [band] yang dikenal di luar sana.

Memang ada band yang melakukan “gerilya”  dengan caranya sendiri. Salah satunya Desecration – salah satu band pioneer beraliran technical death metal – yang merekam sendiri lagunya di sebuah studio, memproduksi dalam bentuk kaset tape serta menyebarluaskan dengan sistem mailorder. Nyatanya, karya mereka mendapat respon bagus sampai ke luar negeri. Band-band dan pemusik di jember ini hampir sama dengan kota lain. Karya musik, mereka punya. Skill atau kemampuan bermusik juga tak kalah. Lalu mengapa “stuck” ? seperti macet di jalan. Ternyata jawabannya adalah minimnya publikasi, informasi yang disebar luaskan lewat media terutama. Dulu media promosi paling utama hanyalah radio. Itupun jelas ada sensor disana sini,bila tidak sesuai dengan isi acara dan selera music director maka habislah sudah. Internet dengan kecepatan yang bisa membuat orang mendadak menderita darah tinggi dan membanting komputernya, tidak bisa diandalkan untuk streaming.

Selain itu ada cara lain publikasi dengan cara gerilya. Membagikan lagu pada saat ada event seperti parade/festival adalah salah satunya. Lagu juga menitipkan ke warnet warnet yang ada pada saat itu guna diputar dan dibagikan secara bebas kepada user warnet yang berminat mengopinya. Dari sini lah akhirnya sebuah timbul ide: mengapa tidak sekalian saja disebarluaskan secara bebas? Bebas untuk diunduh, bebas untuk disebarluaskan. Akhirnya pendekatan demi pendekatan dilakukan kepada kawan-kawan yang ada di komunitas, tentunya tentunya band band yang aktif dan memiliki karya musik. Respon tentunya bervariasi, baik yang positif dan negatif. Ada yang mengijinkan lagunya untuk diupload dan disebarluaskan. Ada juga yang ketika dijelaskan konsep netlabel dan free culture malah mendadak langsung menyikapi dengan membicarakan royalty dan tetek bengeknya. Tapi ini jalan yang harus dilalui memang. Memang harus perlahan-lahan dan tidak semudah membalik telapak tangan. Pun, ini masih dengan membawa nama webzine tentunya.

Satu lagi ide lantas muncul: mengapa tidak sekalian saja dibuat nama label, dan tidak mencatut nama webzine? Bukan untuk keren-kerenan tapi memang harus dipisahkan dengan tegas agar proses berkembangnya netlabel sendiri akan lebih mudah, lebih bebas dan tidak hanya numpang nama proyek saja. Proses pencarian nama sebenarnya tidak memakan waktu terlalu lama,karena sebenarnya konsepnya sudah ada. Kata kuncinya adalah,= membuka mata, membuka telinga dan berpikir terbuka. Selain itu memang harus sedikit “meledakkan pikiran”. 
Seperti meledakkan dinamit di tengah perkampungan. Mungkin terlalu berlebihan bila harus menyadarkan dengan cara memaksa “meledakkan pikiran”. Tapi biarlah saja, namanya juga konsep dan ego.  Akhirnya lahirlah nama Mindblasting. Karena kesukaan pribadi akan musik metal dan ketidak isaan membuat desain logo maka kami sempat memakai logo symbol pentagram. Dengan segala keterbatasan, guna menghindari hilangnya database dan memudahkan dalam memaintain website, akhirnya pilihan jatuh pada wordpress.com. Mindblasting Netlabel akhirnya menggunakan wordpress.com sebagai layanan web.

http://mindblasting.wordpress.com menjadi alamat url dimana netlabel ini bisa ditemui. Untuk memudahkan penanda, akhirnya digunakan tanggal 15 Februari 2009 sebagai tanggal dan tonggak awal berdirinya netlabel ini. Karena posting pertama di website ini adalah pada tanggal tersebut.

Catatan :

– Setelah beberapa postingan di web, ada seorang teman yang tiba-tiba memberikan sebuah cd audio berisi lagu dari sebuah band hip hop. Olehnya, lagu-lagu dalam CD ini dipersilahkan untuk diupload, dikopi dan disebarluaskan dengan bebas. Begitu menerima CD dari band hip hop bernama Jong Ma yang beranggotakan anak anak mahasiswa asal Madura ini,  saya sempat sedikit bengong dan kaget. Saat itu baru band ini yang sukarela menyerahkan “satu album” nya untuk diupload oleh Mindblasting Netlabel.

– Karya musik yang ada di web tidak seluruhnya merupakan rilisan dari mindblasting netlabel. Kadang berupa rilisan yang di dapatkan dari info yang tersebar di internet

– Pada tanggal 1 Januari 2011, 5 netlabel Indonesia antara lain, YesNoWave, In My Room, Stone Age Records, Hujan Rekords dan Mindblasting secara serentak merilis secara Indonesian Netlabel Mixtape, yang digagas oleh Wok The Rock dari YesNoWave

– 7 April 2012, Mindblasting resmi merubah logo label. Lambang awal, Pentagram, diganti dengan lambang kilat dalam lingkaran yang berbentuk huruf M, kependekan dari Mindblasting.

Oleh Arie Mindblasting