Senin selepas isya, 28 mei 2012. “ oxen free di jalan sosrowijayan, di belakang CK malioboro ”, seuntai  petunjuk, modal saya hari itu untuk menemukan lokasi oxen free beer garden, tempat dihelatnya yes no klub yang ke 16. Pikir saya, tidak terlalu sulit menemukan CK di daerah malioboro, tidak sulit pula menemukan plang jalan sosrowijyan. Kedua petunjuk tersebut mungkin sudah saya hafal di luar kepala. Kesimpulan yang saya buat pada saat itu adalah : tidak terlalu sulit untuk menemukan Oxen Free Beer Garden.

Yang terjadi kemudian adalah sebaliknya. Setelah saya mendapati di belakang CK malioboro hanya terdapat satu gang kecil menuju sebuah penginapan dan sebuah bangunan tua yang dijaga oleh pria-pria berbadan tegap dan besar di halaman parkirnya. Namun, keberuntungan masih berpihak pada saya malam hari itu, pada penyusuran selanjutnya, masih di jalan yang sama, saya melihat seorang teman, pengunjung setia yes no klub, duduk di atas motornya di halaman parkir bangunan tua yang dijaga oleh pria berbadan tegap dan besar. Senyuman teman saya yang satu itu saat saya memarkirkan motor seperti menandakan bahwa saya sudah berada di tempat yang benar, Oxen Free.

Oxen free beer garden ini cukup unik. Dari depan, tidak ada tanda-tanda sama sekali bahwa bangunan tua ini adalah sebuah beer garden. Namun, ketika kita melewati jalan samping bangunan tersebut, kita langsung akan melihat sebuah ruangan yang cukup besar layaknya sebuah kafe dengan penerangan lampu yang ciamik nian. Tidak sampai di situ, halaman belakangnya pun ternyata cukup luas, terdapat tempat duduk panjang ala ampiteater/tribun yang terbuat dari kayu yang diselingi oleh pohon-pohon rindang. Sebuah panggung yang sepertinya dibuat khusus untuk setiap pertunjukan yang akan diadakan di oxen free pun terdapat di halaman belakang, yang malam hari itu menjadi panggung untuk yes no klub 16.

“Setelah absen selama 4 bulan, kami hadir kembali dan sekaligus memperkenalkan situs baru kami di Oxen Free Beer Garden, yang masih dalam tahap pembangunan di Jalan Sosrowijayan” begitu kira-kira bunyi pengantar untuk yesnoklub ke 16. Yes no klub merupakan salah satu pertunjukan yang cukup unik dengan menghadirkan performer lokal dan asing yang kadang ‘tidak biasa’ dari rancah elektronik, noise eksperimental dan sejawatnya.  4 bulan, menurut ingatan saya, memang sepertinya menjadi jeda waktu terlama yes no klub yang biasanya mengadakan pertunjukan setidaknya sebulan sekali, yang berlangsung sejak maret 2010. Sebelum memperkenalkan Oxen free sebagai situs barunya, yes no klub sangat akrab dengan sebuah tempat bernama  Jogja National Museum (JNM).  Langgeng Art Foundation dan Kedai Kebun, walau tidak sesering JNM, juga tercatat pernah menjadi tempat dihelatnya yes no klub.

Yes No Klub dikelola oleh Wok The Rock (Yes No Wave Music) dan Tim O’Donoghue (Performance Klub). Baik Wok maupun Tim, keduanya berada di Oxen free malam hari itu. Wok, dengan mengenakan kaos RunDmc-nya dan kacamata hitam bulat, terlihat santai menikmati jalannya pertunjukan. Sementara Tim, dengan kemeja warna putihnya plus sebuah kamera yang selalu di bawanya, terlihat cukup sibuk membantu performer yang akan atau menyudahi penampilannya.

Kembali ke Oxen free. Cukup lama saya berada di halaman parkir yang masih sepi tersebut, sampai sekitar pukul 9 terdengar sayup-sayup suara aneh dari halaman belakang. Mengintip sedikit dari halaman parkir,  seorang pria seperti sedang menguat atik sesuatu dari atas panggung. Tanpa perlu mendekat, saya sudah bisa menerka siapa pria tersebut. Segera saya menuju halaman belakang, benar saja perkiraan saya, Wukir sedang memainkan set-nya, seorang diri.

Ini kali pertama saya menyaksikan Wukir tanpa di temani 2 rekannya, yang pertama duetnya di senyawa, Rully, dan yang kedua adalah bambu wukirnya yang tidak menampakkan wujudnya sedikitpun di panggung. Efek kodoknya terlihat menghiasi lantai panggung, bersama alat-alat lain ciptaannya – dietakkan pada sesuatu yang mirip tripod – menghasilkan bebunyian yang tidak kalah unik.

Panggung yes no klub malam hari itu terbilang sederhana. Pohon menjadi hiasan utama yang alami. Di samping, meja dan beberapa speaker juga memenuhi panggung. Background berupa dinding batu bata merah yang dipadukan dengan bambu bambu di atasnya menjadi kenikmatan tersendiri untuk mata saya. Terakhir, yang tidak kalah ciamik adalah penerangannya yang hanya berupa beberapa neon berwana ungu yang diletakkan di lantai.

Karena terlihat masih lengang, saya pun memutuskan untuk  berdiri di bibir panggung. Dari jarak yang cukup dekat, Wukir , yang mengikat rambut panjangnya itu, terlihat cukup sibuk memainkan beberapa instrumen yang ada di depannya. Menginjak injak efek dan terkadang berjongkok untuk mengutak atik efeknya seperti menjadi pemandangan wajib bagi saya. Bebunyian yang dihasilkan instrumennya ‘memanjakan’ telinga tanpa ampun.

Lebih kurang 30 menit asik sendiri tanpa berucap, kalimat pertamanya pun akhirnya keluar.  “ 5 menit lagi yoh “, pendek dan dapat saya tangkap dengan jelas. 5 menit yang diminta belum habis, Wukir melontarkan kalimatnya lagi, “uwis yoh, pemain yang lain udah siap “. Ada jeda waktu sekitar 2 menit dari kalimat terakhirnya itu sampai akhirnya dia benar benar menutup penampilannya malam itu sekitar pukul 21.40.

Saya masih tetap berdiri di dekat bibir panggung, melihat wukir mengemas  peralatannya. Di sela-sela mengemasi perlatannya, dengan sedikit terengah-engah dia berucap sambil sedikit tersenyum, “ enak sing maen yoh dari pada sing nonton “, pungkasnya sembari menenggak kaleng bir yang ditawarkan oleh salah satu temannya. Saya pun tertawa.

Di waktu yang bersamaan pada saat Wukir mengemasi peralatannya, seorang wanita bule menghampiri bibir panggung dengan membawa koper dan sebuah tas kecil. Wanita bule yang akan membuat semua-teman kita iri jika kita membawanya pada saat hari wisuda kita  itu merupakan penampil selanjutnya.

Memakai rok berwarna pink, atasan hitam dan memakai sandal, lalu dia pun mulai membuka isi kopernya. Karpet berwarna biru digelar terlebih dahulu. Dia pun melepas sandalnya dan berdiri di atas karpet, lalu mulai mengeluarkan beberapa senjatanya : efek-efek kodok, kabel-kabel panjang, mic dan sebuah kotak besar seperti mixer kecil yang dia susun di atas karpet. Koper kemudian dipinggirkan, tas kecil yang dia bawa pun ditaruh di atasnya. Tim pun terlihat membantu persiapan wanita manis yang satu ini.

Seperti terlihat akan memakan waktu dalam persiapannya, saya pun berpindah tempat untuk duduk sejenak. Peace Season, begitu sebutan untuk wanita asal Seatle, amerika serikat, yang satu ini. “efeknya banyak tapi kabelnya panjang panjang”, komentar singkat seorang teman berinisal M untuk Peace Season pada saat saya duduk bersebelahan dengannya.

Saya sedikit lengah, ketika asik ngobrol, tiba tiba saja Peace Season sudah memulai nyanyiannya, anpa ada kata pembuka atau apapun. Wanita itu bernyanyi sambil bersimpuh di atas karpet birunya. Musik yang dihasilkan oleh peralatan analog yang dibawanya terdengar empuk di telinga. Ditambah suara vokal yang sayup-sayup yang sepertinya ditambahkan efek delay, Peace Season mengingatkan saya akan Enya dan sebuah kompilasi bertajuk Inspirational Moments.

“Selamat Malam, hai “, kalimat sapaan pendek pertamanya pun keluar dari bibir manisnya di jeda antar lagu. Penampilannya memang terbilang santai dan sedikit cuek. Sesekali dia berdiri, untuk kemudian bersimpuh lagi. Sesekali dia bernyanyi sambil mengutak atik efek-efek kecil yang ada di hadapannya. Sesekali dia menenggak air dari thermos kecil yang entah darimana datangnya dan sesekali saya sempat membayangkan, dahulu kala apakah ketika hendak tampil, Enya juga membawa bawa koper seperti yang di lakukan Peace Season. Jawabnya, menirukan perkataan peserta eat bulaga indonesia, bisa jadi.

Waktu yang semakin malam, ditambah musik yang dimainkan oleh Peace Season membuat saya merasakan kantuk yang lumayan. Namun, sebuah lagu berjudul Prau Layar karya Ki Sapto Nabdo yang dimainkan peace season, dengan pelafalan bahasa jawanya yang menawan, sedikit bisa menyegarkan saya kembali malam hari itu. Pukul 22.40 Peace Season pun menutup penampilannya dengan berbicara bahasa indonesia sembari mempromosikan merch buatannya. Saya pun tertawa mendengar cara berpromosinya.

Sebuah insiden terjadi ketika Peace Season membereskan semua peralatannya untuk dimasukkan ke dalam kopernya. Secara tidak sengaja dia menginjak lampu yang berada di lantai panggung sampai pecah, sontak saya dan beberapa penonton pun kaget. Beruntung, sepertinya dia tidak mengalami sakit yang cukup berarti, terbukti dengan santainya dia segera melanjutkan memasukan peralatannya kedalam kopernya.

Nok 37 menjadi penampil selanjutnya. DJ Paws 37, yang saya ketahui juga sebagai shopkeeper di demajors jnm, terlihat sudah bersiap dengan set-nya : laptop, pemutar plat, dan mixer semua dalam satu meja. Kantuk cukup deras datang ketika musik mulai dimainkan dan beberapa orang berpakaian gombrang memenuhi bibir panggung.

2 anggota Nok 37 lainnya, Rotten 37 dan Gorillaz 37, muncul belakangan. Nok 37 sudah lengkap, beat yang dimainkan DJ Paws 37 pun cukup menyegarkan dan menyegerakan orang orang di bibir panggung untuk, setidaknya, menggerakkan kepalanya. Namun, harapan kepada Nok 37 akan membawakan suguhan hip hop yang asik malam hari itu pupus seketika seiiring mic (atau soundnya ya) yang sering bermasalah. Jadilah Rotten 37 dan Gorillaz 37 harus puas dengan suaranya yang tidak terlalu terdengar saat mereka berdua bernyanyi. Beberapa terlihat membantu membenahi sound yang bermasalah, termasuk Tim yang cukup sibuk menukar-nukar mic.

Rotten 37 dan Gorillaz 37 kemudian terliihat lebih memilih berbaur dengan penonton yang lain setelah berkicau di beberapa lagu. DJ paws 37 bertahan di panggung, musiknya menemani penonton yang acap kali berbagi kaleng bir. Jam sudah menunjukan angka 12 lewat sedikit, sepertinya satu performer lagi yang dijadwalkan tidak jadi tampil. Wok The Rok mulai terlihat di panggung, berdiri di samping Paws 37. Beberapa penonton melanjutkan bercengkrama di Oxen Free, dan beberapa memilih untuk pulang. Saya, yang berjuang melawan rasa kantuk, pun memutuskan untuk beranjak dari Oxen Free. Kalimat terakhir tulisan ini menjadi milik Tim O’Donoghue, dengan segala perjuangannya malam hari itu untuk kelancaran yes no klub, saya nobatkan Tim sebagai  ‘man of the match’.

Oleh Rangga Nasrullah