INF2 Zine

INDONESIAN NETAUDIO FESTIVAL #2 MANUAL USER

Unduh disini

Editor: Manan Rasudi

Design: Mufqi Hutomo, Natasha Gabriella Tontey

Kontributor: Nuran Wibisono, Arman Dhani, Raka Ibrahim, Nuraini Juliastuti, Anitha Silvia, Dede Wasted Rockers, Ricky Arnold, Manan Rasudi, Andaru Pramudito, Aga Rasyidi Sukandar, Audry Rizki Prayoga

Produksi: KKBM Unpar

_____________________________________

 

Curhatan Cum Editorial Zine INF2

Oleh Manan Rasudi

Jujur saja, saya agak canggung untuk mendedahkan sebuah editorial untuk zine ini. Saya punya segudang alasan untuk membela kecanggungan saya. salah satunya – dan ini yang paling utama -, saya punya pengetahuan yang amat terbatas tentang dunia netlabel. Hal ini sudah saya akui di editorial zine INF pertama. Namun, apa boleh buat, 2 tahun berselang, kontribusi saya terhadap dunia netaudio tak pernah lewat dari kategori, silent downloader. Dengan kondisi seperti ini, saya tak tega – layaknya para sarjana buku kumpulan cerpen Kompas – memberi secercah panduan agar semua pembaca zine tidak tersesat.

Pun, di sini lain, saya juga menganggap bahwa penggiat netlabel sudah terlalu cerdas untuk bisa mencerna semua konten – dengan segala istilah, konsep dan informasi terkeren di dalamnya – dalam satu duduk saja.

Namun, apa mau dikata, nama saya tertulis sebagai editor zine ini. Jadi, menulis sebuah editorial sudah masuk tanggung jawab saya. Lagian, ada nasihat Ibu saya yang susah saya lupakan “Orang yang lari tanggung jawab itu, jauh jodohnya.” Nah, kalau sudah begini, ada baiknya saya serius sejenak.

Bagi saya, membaca zine ini akan sangat mengasikkan. Jujur saja, Zine INF2 lebih ramah ketimbang pendahulunya. Pendahulunya memang lebih gemuk karena memiliki lebih banyak entry. Pun, para pengisi menulis dengan gusto dalam berbagai gaya. Namun, sayangnya, edisi pertama zine ini tak ubahnya seperti rangkaian surat cinta antara dua kekasih. Gampangnya, kontennya masih ekslusif, kalau tidak bisa dikatakan cuma untuk Kalsel (kalangan sendiri).

Tapi tenang, tulisan-tulisan dalam zine kali ini jauh lebih membuka diri. Mayoritas tulisan yang masuk tak terlena menulis tentang apa itu netlabel dan tetek bengeknya dilepaskan dari konteks sosial yang melingkupinya. Misalnya, anda bisa menemukan tulisan tentang penjualan merchandise yang pada akhirnya bisa menyambung nafas netlabel. Lantas, Anda pun bisa menemukan review sebuah album bass music/IDM yang dipercayai penulisnya bisa dinikmati ayahnya yang cuma mengerti dangdut. Lalu, tentang tulisan yang lebih buka-bukaan, eh, membuka diri, ada juga reportase wawancara dengan Frau – salah satu artis netlabel paling kesohor – yang sedikit menyitir album terakhirnya lebih inklusif.

Topik tulisan yang lebih meluas dan membuka diri ini tentunya sejalan dengan misi INF2, yang digagas untuk menyebarkan ide-ide tentang netlabel hingga tidak terjebak menjadi sekadar ide-ide kalangan sendiri (lagi). Namun, demi menyajikan yang konten berimbang, zine ini juga menawarkan beberapa otokritik di beberapa tulisan. Anda bisa menemui seorang penulis dengan subtle menyatakan bahwa netlabel tak harus ngoyo ingin menyasar pangsa yang lebih luas. Lha wong kodratnya memang jadi kanal alternatif distribusi musik. Penulis lainnya malah dengan gamblang mengatakan bahwa model bisnis netlabel saat mulai ditinggalkan para musisi. Untunglah, tulisan pedas ini menawarkan beberapa solusi yang cukup menarik – sekaligus brutal – guna menjaga sustainibility netlabel yang masih hidup sampai saat ini. Jadi, fair dan tidak berakhir nyinyir belaka (walau ditulis dengan nada yang agak meledek.)

Okay, saya pikir 3 paragraf sudah cukup untuk menunjukkan bahwa saya lumayan bekerja sebagai editor dalam penyusunan zine ini. Semoga 3 paragraf itu juga bisa memantik rasa penasaran anda hingga mau terus membaca zine ini. Tenang, jika anda tidak tertarik pun, anda tidak berdosa sedikit pun. Namun, yang paling penting bagi saya, semoga 3 paragraf itu mampu mendekatkan saya dengan jodoh sejati saya. Amin!

Selamat membaca!

Gandaria 13 November 2014

Manan Rasudi