#INFTALK

Kedai Kebun Forum, Yogyakarta, 16 November 2012

Tema : Berbagi Musik sebagai Pemberdayaan Budaya

foto oleh Denan Bagus

foto oleh Denan Bagus

Narasumber :

Nuraini Juliastuti (KUNCI Cultural Studies Center)

Ivan Lanin (Creative Commons Indonesia)

Anggung Kuykay (Bottlesmoker)

Wok The Rock (Yes No Wave Music)

Moderator : Syafitudina (KUNCI Cultural Studies Center)

 

Prolog oleh Moderator:

Nuraini Juliastuti peneliti KUNCI Cultural Studies Center akan memberikan presentasi  selama 15 menit mengenai Budaya Berbagi. Ivan Lanin dari pengamat hukum hak cipta yang juga aktif di Creative Commons Indonesia, Anggung KuyKaysalah satu personel grup musik elektronik Bottlesmoker, dan Wok The Rock (Woto Wibowo) penggagas Yes No Wave Music—sebuah netlabel berbasis di Yogyakarta.  Setiap narasumber akan dipancing dengan pertanyaan dan pernyataan dari moderator. Tidak ada sesi khusus tanya jawab, audience diperbolehkan memberikan pertanyaan selama waktu yang disediakan. Juga ada sesi tanya jawab yang lebih terbuka setelah acara diskusi. Disini sudah terkumpul teman-teman dari netlabel dan teman-teman yang berlatarbelakang lain. Semuanya yang tertarik dengan praktik berbagi sebagai pemberdayaan berkumpul disini. Praktik berbagi sudah menjadi kebiasaan hidup kita dalam keseharian, contohnya jika ada filem terbaru yang bisa kita dapatkan menggunakan torent meskipun harus menunggu semalaman dengan seeds yang amat rendah. Tapi filem tersebut tidak tiba-tiba ada di komputer kita, ada bentuk distribusi dan konsumsi yang berbeda dibelakangnya karena bentuk berbagi yang kita pahami sekarang adalah melalui situs-situs penyedia file yang downloadable.

Dalam diskusi ini akan dibicarakan lebih lanjut terkait praktik berbagi dan apa saja yang ada dibelakangnya. Praktik berbagi yang kita pahami sekarang tidak muncul begitu saja dengan adanya teknologi Internet tapi juga budaya lokal yang terkait dengan “berbagi”. Kita akan membahas kebutuhan berbagi, nilai barang yang dibagikan, dan bagaimana ini bisa dibagi. Aktivitas berbagi membangun jejaring dan menjadi dermawan bisa menjadi bentuk aktualisasi diri atau berpartisipasi dalam konteks yang lebih luas, dan bisa dilihat menjadi bentuk kebutuhan tersendiri. Aktivitas netlabel dipahami sebagai gift economy, konsep balasan dalam bentuk apapun membuat gift economy itu juga berjalan. Gift economy bekerja dalam bentuk sirkuit yang selalu berputar ketika kegiatan berbagi dan pemberian balasan terus berlangsung.

Setelah mengikuti diskusi ini, peserta dapat terus mempertanyakan bagaimana berjalannya model ekonomi berbagi yang dipraktikkan oleh para dermawan musik, serta dapat mencari opsi-opsi alternatif lain. Modal apa yang harus dimiliki untuk menjalankan sistem ekonomi yang seperti ini. Bagaimana membuat model ekonomi berbagi seperti ini bisa terus lestari. Dan bagi audiens yang banyak mengkonsumsi musik-musik dari netlabel, dapatkah audiens menjawab “apakah sharing itu memberdayakan?

 

– Nuraini Juliastuti (Peneliti KUNCI Cultural Studies Center)

Pembicara tidak membuat slide presentasi yang rapi, namun sebuah presentasi powerpoint yang merupakan catatan dari pembicara. Tidak melulu mengenai netlabel namun tentang konteks besar dari perkembangan netlabel di Indonesia. Seiring dengan popularitas netlabel, Pembicara berkeinginan untuk mengeksplorasi karakter produksi budaya dari netlabel, mempelajari bagaimana pengaturan tentang musik di masa sekarang. Mengapa praktik yang ditawarkan oleh netlabel atau praktik lainnya bisa diterima pada titik sejarah di masa sekarang ini. Hal ini juga berkaitan dengan konteks hukum yang berlangsung di Indonesia. Sudah disebutkan bahwa Creative Commons Indonesia merupakan salah satu bentuk perkembangan terbaru di bidang hukum Indonesia. Selain itu kita juga memiliki hukum yang mengatur tentang hak cipta yang dominan atau konvensional, dan perjanjian tentang copyright di ranah internasional. Sebelum diresmikan di Indonesia, Creative Commons diresmikan di Malaysia dan Singapura lebih dahulu. Berkaitan dengan hak cipta konvensional, Creative Commons merupakan kepanjangan dari hukum hak cipta yang dominan. Ketika membicarakan tentang netlabel, kita memang harus membicarakan konteks hukum Indonesia yang kompleks. Hukum di Indonesia sekarang ini memiliki kompleksitas.

Pembicara ingin menginventarisir teknik-teknik yang selama ini dilakukan untuk mengakses produk budaya, juga ruang-ruang budaya dan agen-agen budaya yang jadi pendukungnya, menginventarisir teknik alternatif atau teknik ilegal atau semi-ilegal yang tak terpisahkan dari akumulasi budaya serta praktik yang kita lakukan untuk mendapatkan sesuatu. Diskusi tentang piracy penting diikutsertakan untuk diskusi hari ini. Diskusi  mengenai piracy perlu diperluas dari sekedar sesuatu yang dianggap pelanggaran hukum atau penyerangan terhadap hak cipta. Banyak pula konsep mengenai sharing, beberapa scholars menyamakan sharing dengan piracy. Banyak konsep yang perlu ditelaah lebih hati-hati. Serangkaian alat untuk mengakses pengetahuan dapat dianggap sebagai piracy. Seperti yang sering kita alami, barang-barang pirated (bajakan) kita terima untuk menerima bentuk produk-produk kontemporer. Seni ilegal sudah menjadi bagian hidup kita sehari-hari. Bagaimana seni ilegal bisa ditransfer ke infrastruktur-infrastruktur baru dalam produk budaya.

Pembicara memperoleh informasi dari wawancara yang dilakukannya. Bagaimana cara Wok The Rock yang biasa dipanggil Wowok (Narasumber wawancara penelitan Nuning) mendapatkan kaset tape atau majalah luar negeri saat dia kuliah. Disini Pembicara membuat sebuah peta dimana kita mengalami hal yang sama dengan Wowok, mencari kaset dan majalah di Yogyakarta. Peta meliputi kawasan Malioboro dan Jalan Mataram, Yogyakarta. Di Jalan Mataram terdapat toko kaset Popeye dan kios CD bajakan, disana adalah tempat-tempat untuk mendapat produk-produk dari luar negeri, secara legal dan illegal. Popeye sebagai toko musik legal bersebelahan dengan kios kaset/CD bajakan, ruang-ruang illegal dan legal berdampingan. Itu juga terjadi di jalan-jalan yang lainnya, padahal ruang-ruang atau gedung-gedung pemerintahan juga ada disana, mereka bergandengan (berbagi ruang) dengan tempat penyedia barang-barang ilegal.

Mengapa dan bagaimana pembajakan itu menjadi sesuatu yang menjadi bagian hidup kita, sudah menjadi bagian dari kegiatan ekonomi sehari-hari. Praktik-praktik ekonomi baru seperti yang dilakukan oleh netlabel, harus mengingat praktik-praktik ekonomi yang dilakukan dengan cara piracy. Bagaimana netlabel dapat berkesinambungan dengan sistem-sistem hukum baru seperti Creative Commons. Selanjutnya adalah peta sekitar Shopping Center Yogyakarta, daerah tersebut merupakan alat yang penting untuk mengakumulasi produk budaya (menyediakan buku dan majalah). Point-nya adalah piracy dan ruang-ruang alternatif termasuk pasar-pasar alternatif semacam Shopping Center yang tidak hanya menyediakan barang baru namun juga menyediakan barang bekas.

Pembicara ingin mengeksplorasi dan bermain dengan produk-produk lama atau produk-produk bekas. Contohnya seperti kaset-kaset bekas bisa digunakan kembali untuk direkam menjadi kaset-kaset yang baru lagi (isinya). Kelanjutannya adalah bagaimana sebetulnya pirating, teknik copying, dan hijacking dengan mudahnya membuat barang-barang bekas itu bisa menjadi barang legal atau tetap illegal. Karena sekarang perbedaan antara legal dan illegal menjadi kabur. Selain pasar alternatif yang berperan dalam akumulasi produk budaya, platform-platform pengakumulasi produk budaya seperti netlabel juga berkembang. Salah satu konsep yang Pembicara temukan di netlabel seperti Yes No Wave Music yaitu konsep yang sering diutarakan dalam kegiatan berbagi yang ada pada platform-platform yang lain yaitu gift economy. Yes No Wave Music gagasan dari Wok The Rock terbilang sebagai praktik gift economy. Untuk penjelasan mengenai gift economy, tersambung dengan karya klasik Antropologi “The Gift” oleh Marcel Mauss.

Dalam “The Gift”, Mauss menjelaskan dalam masyarakat Polynesia apabila ada kewajiban memberi, adapula kewajiban untuk menerima dan ada juga kewajiban untuk memberi balasan. Netlabel cocok dikategorikan dalam kelompok yang sedang mencoba melakukan praktik ekonomi tersebut. Netlabel adalah sebuah platform berbagi musik gratis. Pihak pemberi yaitu produser (A&R) dan musisi itu sendiri. Lalu pihak yang diberi musik, bisa sesama musisi atau audiens yang lebih luas yang berada diluar lingkaran tersebut. Memang ini praktik sukarela tapi saat kita memberi hadiah kita tentu mengharapkan suatu balasan, karena menurut Mauss hadiah tidak ada yang gratis. Sebagai kewajiban memberikan balasan atas hadiah yang diterima, dalam kasus netlabel adalah kotak donasi. Maka kata kunci lainnya dalam praktik netlabel adalah donasi, reaksi atas praktik memberi yang disebutkan tadi. Donasi adalah sesuatu yang layak diterima oleh seseorang yang telah melakukan praktik-praktik pemberian. Bagaimana ini muncul, intensi apa atas berbagi, intensi terbesar yaitu ikatan atau kontrak sosial itu tadi, orang terdorong untuk bersikap dermawan kepada sesamanya. Tujuan yang lebih besar dari gift economy adalah membangun persekutuan-persekutuan baru atau jaringan-jaringan persahabatan/persaudaraan, networking.

Tetapi sebenarnya tidak bisa kita melangsungkan praktik gift economy apabila pihak-pihak yang ada disana tidak menyadari tentang potensi benda-benda yang dibagikan/diedarkan/diberikan ke orang lain yang kemudian dibalas dengan sesuatu dalam suatu ketertimbalbalikkan. Hal masih terbuka untuk dieksplorasi selanjutnya adalah apa yang sedang netlabel praktikan sudah mempunyai jejak-jejak praktik ekonomi pada era sebelumnya. Mengapa pratik-praktik yang berbasis solidaritas muncul kembali dan memliki nilai/currency yang besar, seperti praktik ekonomi crowdsourcing (kickstarter[dot]com, patungan[dot]net). Bagaimana masa depan dari ekonomi berbasis pemberian dan pemberian balasan yang coba dipraktikkan kembali oleh para netlabel sekarang ini?

 

– Ivan Lanin (Pengamat hukum hak cipta, Creative Commons Indonesia)

Saya tertarik dengan pemaparan Nuning atas konsep gift economy dan bagaimana  hal itu dapat terjadi. Internet adalah jawabannya, Internet menyebabkan hal yang tidak dapat terjadi menjadi dapat terjadi. Slogan yang digunakan dalam diskusi ini, “Berbagi untuk Pemberdayaan” kebetulan hampir sama dengan slogan yang digunakan dalam Konferensi Creative Commons Asia Pasifik “Sharing to Empower”. Pada pembukaan konferensi, Ari Juliano—project manager Creative Commons Indonesia–memilih tema “Sharing to Empower” karena orang Indonesia sudah terbiasa dengan budaya berbagi. Bisa kita lihat berita-berita dari Indonesia selalu di-update terus-menerus di Internet, meskipun diantara berita itu ada berita yang berguna ada juga yang tidak berguna. Kebudayaan berbagi di Indonesia sudah ada sejak dahulu, sekarang bagaimana budaya berbagi itu lebih memberdayakan orang lain.

Kenapa gift economy ini sekarang muncul kembali, penyebabnya adalah kemunculan Internet. Internet memudahkan orang untuk membagikan apapun. Menurut teori kebutuhan Abraham Maslow, manusia bisa membagikan sesuatu dan berkreasi setelah kebutuhan dasarnya dipenuhi. Apakah Wok The Rock sebagai pendiri Yes No Wave Music sudah terpenuhi kebutuhan dasarnya maka dia bisa berbagi musik secara gratis? Pertanyaan retorika lainnya apakah para seluruh kontributor Wikipedia sudah sejahtera maka mereka bisa memberikan waktunya untuk berkontribusi di Wikipedia. Jawabannya adalah tidak karena saya sebagai kontributor Wikipedia hingga kini masih bekerja tiap hari untuk mencari penghasilan. Menurut teori tradisional, jika orang sudah mau untuk berbagi biasanya kebutuhan dasarnya sudah terpenuhi, itu tidak bisa menjelaskan fenomena Wikipedia dan netlabel.

Kontribusi Creative Commons dalam kebudayaan berbagi adalah pemberian simbol-simbol yang terang dan nyata tentang apa yang pencipta minta/harapkan atas pengguna karyanya. Simbol adalah bahasa yang paling primitif, biasanya semua orang dapat menginterpretasikan simbol, kecuali jika ada perbedaan budaya maka maknanya juga akan menjadi berbeda. Simbol ini memiliki guna yaitu untuk menyampaikan pesan pemilik karya kepada pengguna karya. Sudah ada 4 permintaan yang ditujukan kepada pengguna karyanya yaitu : Atribusi, NonKomersial, BerbagiSerupa dan TanpaTurunan. Atribusi adalah hak pemilik karya agar namanya dicantumkan pada setiap pemakaian karyanya. NonKomersial adalah hak ekonomi sang pencipta (bukan sang pengguna), BerbagiSerupa untuk tetap mempertahankan semangat berbagi. TanpaTurunan memiliki kemiripan dengan NonKomersial. TanpaTurunan dipakai ketika pemilik hak atas karya tidak mengamini adanya perubahan atas karya.

Di dalam hak cipta (UU No.19 Tahun 2002) melekat dua hak, yaitu hak moral & hak ekonomi, dalam rezim hukum Indonesia hak itu melekat begitu hak cipta itu diciptakan. Pendaftaran ke Dirjen Haki diperlukan kalau karya tersebut memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi. Kegelisahannya adalah pada RUU Hak Cipta ada pasal yang menyebutkan bahwa setiap hak cipta itu harus didaftarkan, itu bertentangan dengan konsep hak cipta yang ada dan proses pendaftaran hak cipta itu amat rumit.

Syafitudina : Ada tiga pertanyaan untuk Wok The Rock dan Anggung Kuykay: Mengapa ada kebutuhan berbagi, Apa kekayaan/nilai produk yang dibagikan, Bagaimana pilihan distribusi itu diambil.

– Wok the Rock (Yes No Wave Music)

Menjawab pertanyaan dari Ivan Lanin, terus terang Pembicara merasa bahwa kebutuhan dasar pribadinya belum terpenuhi dengan ideal. Tapi Pembicara memiliki kebutuhan yang lain, yaitu berderma, membantu sesama, berbagi. Memang ini bukan kebutuhan pokok, tetapi apabila kebutuhan berderma tidak terpenuhi yang akan terjadi adalah ketidaknyamanan, kepala pusing, suntuk, gak doyan makan meskipun punya uang. Pembicara rasa kebutuhan pokok dan sekunder (kebutuhan berbagi) harus dikerjakan secara bersamaan, untungnya Pembicara punya kemampuan multitasking.

Menjawab pertanyaan kedua, Pembicara teringat saat masih memiliki label rekaman yang merilis kaset tape. Selama lima tahun merilis kaset tape, Pembicara melihat bahwa penggemar musik lebih suka membeli merchandise daripada kaset tape (rilisan fisik). Pembicara menjual kaset tape yang mana kaset tape tersebut tidak laku sementara band (yang musiknya dirilis dalam bentuk kaset tape oleh Pembicara) membuat merchandise lalu kekayaan band bertambah. Band menjadi kaya, label saya bangkrut. Fakta-fakta tersebut menimbulkan pertanyaan terkait fungsi distribusi daripada label rekaman tersebut.

Seiring berjalannya waktu, Pembicara mengenal teknologi bernama Internet. Ketika Internet menjadi populer dan mp3 sudah semakin sering dipergunakan oleh pendengar musik, yang tentu saja musik-musik yang didengarkan diunduh secara illegal. Pembicara berpikir, kenapa tidak Pembicara tetap dapat membantu distribusi musik tetapi tanpa mengeluarkan uang, dan band yang didistribusikan musiknya tetap bisa punya pemasukan. Yang kemudian biaya-biaya produksi untuk membuat kaset atau cd dialokasikan untuk membuat merchandise. Jadi seperti subsidi silang dengan band yang dirilis, yaitu band tetap memiliki pemasukan dari merchandise atau diundang tampil. Tetapi sejauh ini tidak banyak yang mujur sampai diajak tampil lalu dibayar, namun tetap tidak menghapus kemungkinan hal tersebut dapat terjadi. Dengan mudah album/rilisan musik itu disebarkan melalui jalur Internet, yang kemudian rilisan tersebut banyak diketahui orang-orang dan orang-orang menyukai rilisan dari band tersebut. Dan akhirnya audiens yang menyukai rilisan tersebut membeli merchandise langsung dari bandnya. Itulah metode yang saya percayai. Keuntungan/pemasukan dari netlabel juga didapat dari menjual merchandise netlabel itu sendiri. Daripada menghadapi rumitnya distribusi rilisan fisik, lebih baik modal saya buat untuk membuat merchandise. Karena, menurut pengalaman, merchandise itu lebih laku dibandingkan rilisan fisik. Sebenarnya ada hal yang ingin Pembicara tanyakan kepada audiens yaitu “Kenapa lebih suka membeli merchandise daripada membeli rilisan fisik?”.

Sampai saat ini sistem donasi dalam netlabel belum berjalan dengan baik, karena ketika orang mendengar kata donasi, mereka memberikan banyak uang (donasi) kepada korban bencana alam dan kegiatan keagamaan bukan untuk kesenian.

 

– Anggung KuyKay (Musisi, Bottlesmoker)

Sebelum Bottlesmoker mengenal Internet, Bottlesmoker menyebarkan karya secara offline. Waktu itu Pembicara berkuliah di UNPAD, di daerah Jatinangor yang notabene banyak warnetnya, Pembicara menaruh karya Bottlesmoker di folder musik internasional PC yang ada di warnet tersebut, ternyata penyebarannya lumayan efektif, ada feedback tak terduga yaitu Bottlesmoker menjadi bahan pembicaraan para pengguna warnet. Dan kemudian mulai ketahuan siapakah dalang yang ada di belakang Bottlesmoker, yaitu Angkuy dan Nobie. Jika Pembicara sedang ada uang lebih, karya-karya Bottlesmoker di-burning di CDR untuk diberikan kepada media, pihak label rekaman, dan teman-teman yang ada di luar kota, jadi hand by hand pada awalnya.

Akhirnya ada beberapa teman yang mengajak Bottlesmoker manggung secara minimalis menggunakan komputer, Pembicara menyediakan meja yang semacam dengan stand offline sharing pada pertunjukan tersebut, audience bebas mengcopy-paste lagu Bottlesmoker. Bottlesmoker juga dikenalkan oleh Gembi mengenai SASE karena saat itu Internet masih belum begitu mudah untuk dijangkau diluar kota Bandung, sehingga teman-teman biasa mengirim CD dan perangko, lalu Bottlesmoker mengirim kembali CD tersebut dengan karya-karya Bottlesmoker, yang menyenangkan adalah balasannya ada surat dan hadiah seperti permen dan kipas kertas dari mereka, dan sampai sekarang pun masih dilakukan.

Tahun 2003 akses Internet sudah sangat mudah, Gembira Putra Agam mengenalkan Pembicara kepada netlabel, karena Sungsang Lebam Telak diliris oleh netlabel dari Prancis. Lalu Pembicara menemukan Observatory Online—electronica netlabel, dengan roster seperti Vitaminsforyou, Lullatune, yang rilisannya merubah hidup Pembicara, netlabel tersebut meliris album bagus secara gratis. Disitu muncul buah pikiran bahwa tentang betapa tulusnya seorang pegiat netlabel yang menyisihkan uangnya untuk membeli domain dan memberikan waktunya untuk mengerjakan netlabel, amat terpancar sebuah spirit ketulusan disana, saya terinspirasi untuk melakukan hal yang serupa. Saya juga mengkonsumsi game dan software gratis, saya salut dengan ketulusan mereka mendistribusikan secara gratis. Waktu itu Pembicara tidak berani memasukkan proposal ke Yes No Wave Music karena saat itu rilisannya mula mula penuh dengan harmonisasi yang kompleks seperti ZOO dan J. Irwin. Akhirnya Pembicara mengirimkan proposal-proposal ke sejumlah netlabel berisi ajakan untuk merilis karya Bottlesmokers secara gratis yang sudah di-share di MySpace. Akhirnya ada sambutan dari netlabel luar negeri, tapi netlabel itu genre rilisannya tidak spesifik, tidak khusus elektronik, karena Pembicara ingin punya jejaring yang lebih luas di scene musik elektronik maka Pembicara mencari netlabel yang lebih tepat. Lalu ada Neovinyl Records–netlabel dari Spanyol–merespon proposal kami. Dari situlah Pembicara mulai berkenalan dengan Creative Commons, karena pihak Neovinyl Records meminta kami untuk memahami lisensi tersebut. Akhirnya Pembicara membaca dan memahami lisensi-lisensi dari Creative Commons, dan disadari bahwa lisensi ini memang yang dicari dan dibutuhkan oleh Bottlesmoker, karena Pembicara sendiri tidak mencari keuntungan finansial dari karya yang dibuat.

Akhirnya pada tahun 2008, Probablyworse Records–netlabel dari USA–membantu mempromosikan dan mendistribusikan karya Bottlesmokers secara online, sejumlah media online luar negeri menginterpiu kami, ini sangat diluar dugaan. Akhirnya Deathrockstar menemukan Bottlesmoker di forum-forum yang ada di luar negeri yang pada akhirnya rilisan-rilisan tersebut dirilis ulang oleh Shining Records, dari situ meluas penyebaran karya kami di Indonesia, setelah itu makin banyak tawaran manggung. Awalnya saya hanya ingin menulis lagu dan menyebarkannya, sekarang saya harus bertanggungjawab menampilkannya di panggung, lalu saya membeli mixer hasil mencatut biaya kuliah. Pertunjukkan perdana kami tahun 2008 bersama Ballads of the Cliché, saat manggung saya ditertawakan oleh audience karena mixer yang saya beli tidak berfungsi, karma karena hasil mencatut biaya kuliah, saya pun harus belajar untuk melakukan pertunjukkan. Setiap manggung saya dapat bayaran, uangnya saya beli alat-alat, dan banyak tawaran manggung di luar negeri yang bayarannya pasti lebih besar. Sampai 2010 intensitas manggung makin banyak dan uang berdatangan.

Ada kawan yang support bikin video clip untuk Bottlesmoker, sebagai hadiah balasan atas rilisan Bottlesmoker yang diberikan gratis, ini sebuah timbal balik yang diluar dugaan. Ada juga penonton yang memberikan toy music, controller secara gratis kepada kami. Kami juga di-endorse oleh clothing line : Screamous, jadi saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk kebutuhan sandang, kami juga di-endorse oleh Adidas, jadi tidak perlu beli sepeda. Melalui tawaran manggung, endorsement, dan penjualan merchandise itulah yang membantu perekonomian Bottlesmoker.

Saya tidak tahu masa depan saya di bidang musik, tapi saya optimis dengan gerakan free-sharing karena terbukti peluang peluang bermunculan dan saya dapat banyak dengan melakukan gerakan tersebut. Salah satunya saat video clip Bottlsmoker diputar di MTV Insomnia, saya diajak bermain bersama Anggie (Drive), berkolaborasi membuat lagu, dan meremix lagu orang, kami dapat royalty atas pekerjaan tersebut, lagu saya menyebar di agensi iklan, lalu ada tawaran membuat jingle iklan, saya akhirnya bisa mendapatkan uang dari membuat komposisi musik. Pembicara berpikir bahwa ada timbal balik yang diluar dugaan apabila sebuah perbuatan diawali dengan ketulusan.

 

 

#INFTALK – Diskusi – termin Penanya

– Pertanyaan :

1. Pertanyaan Nuraini Juliastuti kepada Woto Wibowo : Bagaimana relasi antara Anda sebagai pengelola netlabel dengan orang-orang yang menjadi sasaran proyek netlabel Anda. Apakah kamu menganggap proyek ini sebagai proyek sedekah? Karena konsep sedekah itu memiliki makna yang sedikit berbeda dengan konsep berderma, sedekah itu lebih spiritual dan mempunyai feedback-nya sendiri yaitu pahala.

Woto Wibowo : Dalam pemenuhan kebutuhan pokok, itu berarti tentang memikirkan untuk mencari uang untuk makan atau tempat tinggal. Ketika melakukan distribusi musik secara fisik, hal tersebut malah tidak membuat Pembicara bisa makan, yang terjadi malah kebangkrutan. Ketika melihat atau menempatkan praktik sedekah atau berderma menjadi sebuah nilai spiritual, membuat saya menjadi tidak lapar lagi. Bisa dibilang ini adalah praktik sodaqoh, karena memang ketika kita ber-sodaqoh kita tidak terlalu memikirkan bentuk-bentuk pemberian kita.

 

2. Pertanyaan Gita kepada Woto Wibowo dan Nuraini Juliastuti : Batasan antara legal dan ilegal yang dapat kita temukan di Jalan Mataram. Menurut penanya, dalam konteks netlabel hal tersebut amat berbeda karena konsep penjualan di Jalan Mataram dilakukan secara masal, kalau netlabel itu cenderung ditargetkan kepada yang seleranya spesifik, memiliki konsumen tertentu, dan bentuk konsumsinya menjadi berbeda. Dengan spesifikasi konsumen tersebut apakah netlabel menjadi sebuah penyedia musik yang ada pada jalur selera alternatif atau bisa menjadi bentuk distribusi selera musik secara masal? Ketika konsumen melakukan praktik-praktik itu, mereka akan menyadarinya sebagai berbagi atau membajak?

Woto Wibowo : Pembicara hanya menyukai musik-musik tertentu saja dan Pembicara ingin menyebarkan musik-musik yang Pembicara suka melalui Yes No Wave. Kebetulan netlabel lainnya di Indonesia seleranya sama seperti Pembicara, yaitu musik-musik indie. Sebenarnya sistem netlabel terbuka bagi siapapun, apapun selera musiknya, mungkin karena wacananya masih tersebar di wilayah kelas menengah maka hanya di musik tertentu, mungkin 2 atau 3 tahun lagi bisa muncul netlabel dengan konsentrasi musik yang beragam, bisa dari musik populer atau apapun. Persebaran karya tidak mengenal batasan jenis musik dan jenis pengetahuan, hanya karena hal ini masih baru maka baru genre tertentu yang disebarkan. Misalnya waktu di Jakarta, Pembicara bertemu dengan Adythia Utama–seorang aktifis skena musik noise, dia berkeinginan untuk membuat sebuah netlabel untuk musik-musik noise.

Pembicara ingin membuat sebuah sub-label untuk musik pop melayu karena banyak sekali submissions dari musik yang masih umum seperti itu, itu akan menjadi sodaqoh Pembicara bagian 2, sepantasnya Pembicara masuk surga. Yes No Wave merupakan bentuk dari kesukaan Pembicara pada musik tertentu, namun tetap tidak menutup kemungkinan Pembicara membuat sebuah sub-label untuk musik-musik yang lebih umum.

Nuraini Juliastuti : Konsep sharing yang disamakan dengan piracy ada dalam karya-karya scholar yang antipiracy. Ada banyak tulisan-tulisan yang membicarakan perkembangan pengaturan terhadap suatu karya oleh aliran yang antipiracy, mereka menganggap berkembangnya piracy di Indonesia itu terjadi karena adanya kultur sharing yang kuat. Menurut Pembicara jarang ada scholar Amerika yang berbicara tentang piracy dengan jelas, terutama tentang piracy yang tidak bisa dipisahkan dari akumulasi dan produksi pengetahuan. Di negara dunia ketiga, kita tidak mungkin membicarakan akumulasi pengetahuan kalau tidak membicarakan piracy. Popeye hanyalah background, sebenarnya asumsi Pembicara adalah karena sekarang kita lihat ada platform ekonomi seperti Yes No Wave yang bisa dikembangkan pada platform pengetahuan, dimana hal tersebut mempengaruhi batasan antara legal dan illegal kedepannya. Apakah netlabel akan menjadi sesuatu yang selamanya menarik, memang belum dilakukan eksplorasi pada genre musik yang dibawakan oleh tiap label. Namun sistem ekonomi yang mereka bawa, yaitu sistem gift economy, masih membutuhkan waktu yang lama untuk dilihat perkembangannya. Kemajuan teknologi (Internet) hanya menjadi unsur yang mempercepat kesadaran berbagi, harus ada semacam hasrat untuk meningkatkan rasa hormat terhadap konsep berbagi.

 

3. Pertanyaan Rinta kepada Ivan Lanin : Apakah bentuk perlindungan dari Creative Commons atas suatu karya apabila ada pembajakan, apa bentuk perlindungan atas karya tersebut secara kongkrit?

Ivan Lanin : Creative Commons menyediakan lisensi mengenai pengaturan hak cipta. Lisensi adalah pernyataan apa yang bisa dilakukan atas suatu karya, Creative Commons tidak membuat UU sendiri. Perlindungan yang dilakukan tetap menggunakan UU 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta, Creative Commons hanya memberikan kemudahan interpretasi, menyederhanakan maksud dari pencipta karya mengenai syarat penggunaan pada setiap karya. Kami memilih untuk memberikan pedoman penggunaan karya berbentuk simbol daripada penjelasan yang panjang.

Bantuan yang kami berikan kepada kasus pelanggaran hak cipta, Pertama kami membuat template standard yang dikirimkan kepada pelanggar hak cipta atau calon pelanggar hak cipta, template tersebut adalah surat teguran pemberitahuan dilakukan bahasa yang halus. Kedua, jika pemberitahuan tersebut diabaikan, di Indonesia sudah ada asosiasi pengacara HAKI yang menyediakan layanan tanpa bayaran (probono), asosiasi tersebut menyediakan pembuatan surat somasi dengan kop surat pengacara. Langkah ketiga yaitu abritase (perundingan). Langkah keempat adalah tuntutan hukum, dan payung hukumnya adalah UU 19 tahun 2002.

 

4. Pertanyaan Antariksa kepada Nuraini Juliastuti dan Ivan Lanin : Penanya menambahkan dalam aspek budaya berbagi yaitu budaya menyeleksi. Misalnya pada kasus buku digital (e-book) yang jumlahnya banyak sekali, namun hanya ada beberapa yang dikonsumsi (dibaca). Maksud dari budaya berbagi adalah membagikan pengetahuan sebanyak-banyaknya, namun konsumen pasti menemui kesulitan untuk menyeleksi. Disini pasti ada institusi yang setengah kuno dan setengah kontemporer yang mempunyai metode kuno yaitu menyeleksi, seperti Yes No Wave. Jadi jika Pembicara membutuhkan musik yang bagus, maka tinggal mengikuti rilisan dari Yes No Wave, karena Wok The Rock sudah melakukan proses seleksi.

Karena produk dan informasi yang terlalu banyak, kita mempunyai kesulitan untuk memilih produk yang mana yang akan kita konsumsi. Kita berbagi bukan karena kebutuhan dasar sudah terpenuhi, karenxa yang dibagi bukan uang atau makanan, dan memang bukan tentang primer dan sekunder. Ada contoh bagus dari Wok The Rock yaitu ada aspek ritual dalam budaya berbagi. Adapula aspek ritual dalam mengkonsumsi, ketika kita melakukan konsumsi sebanyak-banyaknya tapi kita tidak tahu apa tujuannya, lalu muncul pertanyaan yaitu : Apakah memang benar berbagi itu memberdayakan?

Nuraini Juliastuti : Untuk konteks konsumsi kontemporer yang kita butuhkan adalah jasa dari agen-agen lain, seperti kurator semi-pemulung seperti Woto Wibowo dan para remixer yang juga memilki jasa dalam budaya konsumsi kontemporer seperti sekarang, meberikan bentuk-bentuk baru dari barang yang telah kita konsumsi, aspek penyeleksian menjadi penting. Tentang praktik berbagi yang dianggap sebagai ritual, hal itu dapat dibenarkan ketika dianggap sebagai praktik religius yang baru, praktik religius plus militansi. Karena pernah terjadi pada suatu workshop kecil yang Pembicara ikuti, dimana para pembuat portal yang berbagi buku memang tidak menganggap diri mereka hanya sebatas berbagi, ada militansi dan aktivisme disitu. Kita masih harus menunggu bagaimana masa depan dari agama baru plus militansi ini.

Ivan Lanin : Awal keterlibatan Pembicara dalam budaya berbagi adalah ketika Pembicara mulai menulis untuk Wikipedia. Ada rasa puas begitu Pembicara membagikan tulisan saya kepada orang lain, lima tahun lagi ketika anak Pembicara mencari info tentang ilmu pengetahuan di Internet, ilmu tersebut sudah tersedia di Internet secara lengkap di Wikipedia. Apakah membagi itu memberdayakan? Jawabannya adalah iya, meskipun ada resiko kelewahan informasi atau information overload. Hal itu kita kembalikan pada diri kita, bahwa bagaimana kita dapat menyaring informasi-informasi tersebut. Penyaringan dapat dilakukan oleh agen ketiga atau suara khalayak. Bahkan mesin pencari dapat memberikan kepada kita sumber informasi yang sudah diperhitungkan popularitasnya. Sama halnya dengan lagu atau film, dengan adanya sistem peringkat, kelewahan informasi dapat kita atasi. Itu bukan merupakan alasan yang mencegah kita untuk berbagi, biar publik yang menilai, hal yang dibagi berguna atau tidak. Tentang berbagi sebagai kebutuhan dasar, memang betul pernyataan Pembicara sebelumnya itu salah, tidak semua yang melakukan praktik berbagi itu yang sudah tercukupi kebutuhan dasarnya.

 

Testimoni

Testimoni dari Arie Mindblasting :

Mindblasting, netlabel yang berawal atau lahir di Jember. Kenyataannya adalah karya-karya musik di Jember tidak pernah keluar dari Jember. Pertama Mindblasting menyebarkan musik keras seperti metal dan punk. Ketika berhadapan dengan musik pop atau musik lainnya, kenapa tidak diikutsertakan saja untuk disebarkan. Disitu muncul sebuah point bahwa banyak musik lain yang memang juga layak untuk dibagikan. Akhirnya tanpa ada kurasi, Mindblasting menyebarkan musik-musik yang ada karena karya seni ini suatu saat akan menjadi artefak di masa depan dan itu menjadi sejarah pergerakan musik di Indonesia.