Lani Njoged

 

Les Njoget dengan Iringan MP3

Leilani Hermiasih (musisi, peneliti di LARAS Studies of Music in Society)

 

Pada satu Minggu siang yang sumuk luar biasa, saya dan lima teman perempuan lain duduk bersila di pelataran rumah saya. Dalam posisi semi-siap menari, kami menunggu Bu Ning, pelatih kami, untuk memainkan gendhing untuk tari Golek Sari Kusuma dari sebuah piranti pemain MP3[i] yang langsung dicolok flashdisk. Masalahnya, pemain MP3 ini rupanya tak memiliki fitur layar untuk menampilkan nama dari file yang dimainkan. Selain itu, bagian awal atau ‘intro’ gendhing iringan tari tradisional Jawa cukup mirip satu sama lain dan bisa berdurasi satu menit sendiri. Demikianlah, kami hanya bisa bersabar menanti file tepat dibunyikan. Sambil menunggu dan menebak-nebak gendhing yang sayup terdengar dari pemain MP3 segenggaman tangan itu, kami sesekali menertawakan lirik lagu-lagu dangdut populer versi house music untuk iringan senam yang lantang membahana dari rumah tetangga sebelah.

Pengalaman auditori semacam ini terlampau menarik untuk mengilustrasikan potret Jogja masa kini. Dalam potret ini, kita melihat beberapa mahasiswa muda yang ingin ‘menggali kembali akar budaya’ mereka, seorang pengajar tari tradisional yang mendayagunakan teknologi (hampir) mutakhir dalam pekerjaannya, dan ibu-ibu (atau nenek-nenek ya?) yang juga menggunakan speaker dengan pertimbangan-pertimbangan estetis serta fungsionalis mereka sendiri. Dikarenakan potret (dan ajakan untuk membuat satu tulisan tentang MP3 untuk MP3 Day Zine) ini, saya tertarik untuk mencoba mencermati penggunaan MP3 dalam pembelajaran tari tradisional Jawa, khususnya di Jogja, hari ini. MP3, yang sering kita temui dalam perhelatan budaya populer, dalam keseharian kita sesungguhnya juga memiliki peran penting dalam ranah budaya tradisi. Di situ, efisiensi, sebagai satu kualitas esensial yang ditawarkan oleh MP3 dan produk-produk teknologi lain, memungkinkan terjadinya keterbukaan, ketersebaran, dan keberagaman pengalaman budaya. Saya akan mencoba menunjukkan potensi-potensi ini lewat pengalaman-pengalaman tiga pengajar tari dari tiga generasi berlainan.

 

Merayakan Efisiensi: Keterbukaan dan Ketersebaran

“Lihat kan, dengan MP3, saya bisa bawa tas ini saja,” kata Bu Ning siang itu, sambil mempertunjukkan tas kecilnya yang hanya berisi dompet, sampur (selendang tari), pouch untuk pemain MP3 juga kabel koneksi listrik serta dua-tiga flashdisk, dan satu kemasan berisi dua CD audio. Seraya mengeluarkan dan menunjukkan CD tersebut, ia bercerita, “Saya tadi dari tempat teman yang membuatkan MP3 dari lagu-lagu di CD ini.” Cerita ini berlanjut dua hari berikutnya, ketika saya mengunjunginya mengajarkan tari Golek Menak pada seorang Bu Ning lain, di ruang belajar sanggar Krida Beksa Wirama.[ii]

Bu Ning mulai beralih dari penggunaan kaset pita dalam pengajarannya sejak tahun 2006. Waktu itu, kaset-kaset gendhing tarinya ditransfer ke dalam format CD audio (karena tak banyak tersedia di pasar) dengan harga yang cukup mahal, Rp 150.000,00. Seiring teknologi pentransferan data audio berkembang, harganya turun menjadi Rp 50.000,00, hingga Rp 30.000,00 per kaset. Tak lama kemudian, seorang temannya menyanggupi melakukan pentransferan semacam ini dengan harga Rp 15.000,00 per kaset, ia langsung mentransfer semua kaset tarinya ke dalam bentuk CD. Pada saat yang bersamaan, beberapa sanggar tari seperti Yayasan Pamulangan Beksa Sasminta Mardawa (YPBSM)[iii] melakukan hal yang sama dan memperjualbelikan CD-CD audio ini dengan harga Rp 25.000,00.[iv]

Di ‘masa CD’ ini, Bu Ning perlu memastikan kalau tempatnya mengajar memiliki pemutar CD atau membawa compo berukuran agak besar ke tempat latihan. Hal ini dipandangnya cukup merepotkan, sehingga ketika teknologi pengalihan file audio menjadi MP3 muncul dan media pemainnya banyak ditawarkan di pasaran, sekitar tahun 2008, ia pun ikut beralih ke situ. Dengan berbekal pemain MP3 seukuran genggaman tangan itu, ia bisa mengajar di (hampir) manapun, tak perlu lagi repot-repot memastikan ada atau tidaknya alat pemutar di sana. Sebagai seorang pengajar tari lepasan (di samping mengajar di Krida Beksa Wirama dan sejumlah sanggar tari lain), fasilitas ini sangat membantunya.

Anak Bu Ning, Seto, seorang mahasiswa S2 Pengkajian Seni UGM yang belajar tari dan sudah mulai mengajarkannya juga, terbantu pula dengan kehadiran MP3. Beberapa muridnya merupakan mahasiswa dan pelajar dari luar kota, yang tak mesti memiliki ruang luas untuk berlatih. Alhasil, seringkali Seto mengajar tari di selasar Taman Budaya Yogyakarta (usai jam kerja) ataupun di kamar kost muridnya. Jika muridnya menyediakan laptop dan/atau speaker aktif, ia tinggal membawa flashdisk untuk dicolokkan. Dari sini, kita bisa melihat bagaimana ruang-ruang pembelajaran tari tradisional tak lagi tersentralisasi di sanggar-sanggar tari dengan pendopo luas, namun tersebar sampai ke kamar-kamar kost seukuran tiga meter persegi sekalipun.

 

Mempertanyakan Efisiensi: Perkembangan dan Kesesuaian Fungsi Teknologi

“Wah, MP3 itu saya pernah dengar, tapi kok lupa ya, itu apa?” tanya Bu Tiyah,[v] ketika saya menjelaskan alasan kenapa saya tiba-tiba muncul menjemputnya dari pasar dekat Pendopo Pujokusuman. Sebagian diri saya langsung lemas, merasa gagal sebagai peneliti, tapi ungkapan-ungkapan yang menyusul segera melenyapkan kekhawatiran saya itu. Setelah saya jelaskan sedikit tentang MP3, Bu Tiyah langsung lancar menceritakan sejarah penggunaan teknologi suara dalam pengajaran tari di YPBSM.

Penggunaan kaset pita sudah dimulai sejak awal YPBSM terbentuk, di pertengahan tahun 1960-an. Dengan pembelian sebuah pemutar kaset portable bermerk Philips dalam kunjungannya ke Eropa tahun 1971, kegiatan belajar mengajar tari menjadi tak terlalu ribet lagi. Menariknya, dengan perkembangan teknologi ke CD (dan hingga kini, ke MP3), Bu Tiyah justru merasa paling cocok dengan pemutar kaset portable tersebut. Selain bentuknya yang dianggap cukup ringkas, “… keunggulan ‘manual’[vi] (kaset) itu bisa di-stop di sembarang tempat. Dengan CD atau MP3 kan tidak bisa semudah itu.” Problem yang ditemui dengan kaset, yakni potensi pitanya “nggubet” atau terbelit dan bahkan terputus, bagi Bu Tiyah, bisa disikapi dengan mudah: “… tinggal disambung dengan selotip saja. Paling ya hanya kehilangan satu detik.” Menurut Bu Tiyah, fitur pause, rewind, fast forward pada kaset ‘manual’ penting dalam pengajaran tari, karena bagian-bagian khusus dapat langsung dituju tanpa harus menunggu lagu diputar dari awal. Saya kemudian menanyakan, bukankah persoalan teknis ini bisa dipecahkan dengan media pemutar yang lain, seperti laptop dengan speaker aktif? Ia langsung menabiknya dengan alasan persiapan yang jauh lebih merepotkan ketimbang menggunakan satu pemutar kaset portable saja.

Hal ini langsung membawa saya berefleksi, MP3 sekaligus pemutarnya memang tidak diciptakan secara khusus untuk pengembangan pendidikan tari, melainkan kompresi data audio.[vii] Secara fungsional, MP3 lantas diapropriasi oleh pengajar-pengajar tari karena wujudnya yang lebih ringkas. Tentu saja, dalam praktiknya, pendayagunaan ini mengalami beberapa persoalan; misalnya saja, terkait persoalan kurang efektifnya fitur rewind/fast forward pemain MP3 tadi. Di satu sisi, hal ini memang membuat waktu belajar menjadi kurang efektif. Namun di sisi lain, mendengarkan ulang iringan dari awal juga memberi kesempatan bagi murid untuk mencermati bagian-bagian lain yang tak sedang menjadi fokus. Demikianlah, seperti praktik-praktik apropriasi lain, yang seringkali disalahtafsirkan sebagai “kekeliruan kreatif”,[viii] problem-problem teknis dalam penggunaan MP3 justru berpotensi memunculkan kemungkinan-kemungkinan baru dalam pembelajaran tari.

 

Technoculture: Budaya dan Seni Tradisi di Era Modern

Tentu, potensi-potensi keterbukaan dan ketersebaran yang saya sebut di atas bukan secara eksklusif merupakan dampak dari kehadiran MP3 dalam ranah ini. Tari tradisional Jawa, seperti produk-produk tradisi lainnya, menjadi lebih terbuka dan tersebar begitu ia bersinggungan dengan teknologi modern—dalam hal ini teknologi pemain bunyi terekam dari media yang berwujud seperti kaset pita dan CD, serta yang nirwujud seperti file digital. Yang menarik dari pemaparan-pemaparan tadi, bagi saya, bukan sekadar keunggulan dan kelemahan masing-masing media, melainkan keberagaman pengalaman yang muncul dari pemakaian media-media teknologi ini dalam transmisi budaya tradisional.

Kita tinggal dalam dunia yang semakin mengglobal, di mana teknologi bertolak dari satu belahan dunia ke belahan dunia lain. Sebuah pemahaman yang mirip namun lain dari globalisasi, yakni Westernisasi, seringkali ditakutkan oleh beberapa peneliti budaya. Alan Lomax, seorang etnomusikolog sekaligus folkloris, bahkan memperingatkan kita akan terjadinya ‘cultural grey-out’, dengan masuknya produksi massal serta sistem komunikasi Barat ke negara-negara non-Barat yang akan mengacaukan bahasa, tradisi, makanan, dan gaya kreatif masyarakat lokal.[ix]

Namun, sebagaimana kita ketahui dari kehidupan keseharian maupun literatur ilmu sosial hari ini, pemakaian teknologi tak serta merta mem-Barat-kan masyarakat yang ‘diekspos’. Satu poin penting yang perlu selalu kita ingat dalam hal ini adalah bahwa masyarakat yang bersinggungan dengan teknologi merupakan subyek aktif dalam praktik apropriasinya.[x] Pilihan-pilihan serta pertimbangan-pertimbangan dalam apropriasi akan memungkinkan perilaku-perilaku baru, namun bisa juga menegaskan nilai-nilai tradisi lokal.[xi] Pergeseran atau bahkan kebaruan perilaku-perilaku ini hendaknya dilihat dengan kacamata technoculture, sebuah konsep yang dikembangkan oleh Andrew Ross, yang melihat suatu kelompok masyarakat berdasarkan interaksi mereka dengan teknologi; bahwasanya teknologi senantiasa mempengaruhi pertumbuhan masyarakat tertentu.[xii]

Dalam lingkup pembelajaran tari tradisional Jawa di Yogyakarta, MP3 menjanjikan efisiensi demi ketersebaran ruang belajar. Walau begitu, dalam praktiknya, persoalan-persoalan teknis masih sering muncul dan sepintas tampak sebagai bukti kekurangcakapan masyarakat lokal mendayagunakan teknologi yang ada. Alih-alih melihatnya sebagai “kekeliruan kreatif”, persoalan ini baiknya kita cermati berbekal kacamata technoculture sebagai upaya apropriasi teknologi suara, yang akan terus-menerus dikembangkan oleh subyek-subyek aktif yakni pengajar (serta pelajar) tari tradisional Jawa. Selanjutnya, dengan mengintip lewat kacamata ini, kita diingatkan untuk senantiasa merefleksikan konsep otentisitas—dan bahkan tradisi, yang seringkali kita pisahkan dari perkembangan teknologi.

 

Catatan

[i] Saya menggunakan kata ‘pemain’ dan bukan ‘pemutar’ karena secara teknis tidak ada yang diputar untuk mengeluarkan data audio pada file mp3 (berbeda dengan piringan hitam, CD, kaset pita). J

[ii] Krida Beksa Wirama didirikan tahun 1918 oleh GBPH Tedjokoesoemo dan GBPH Soerjodiningrat, putra-putra Sri Sultan Hamengku Buwono VII. Setelah beberapa tahun sempat vakum, sanggar tari ini kembali aktif menerima murid tari pada tahun 2009, dan berbasis di Jalan Tirtodipuran, seberang dari showroom Batik Plenthong.

[iii] YPBSM didirikan pada tahun 1962 oleh Romo Sasminta Mardawa seorang mpu tari klasik gaya Yogyakarta. Kegiatan pembelajaran dilakukan di Ndalem Pujokusuman, Pojok Beteng Timur.

[iv] Konon sanggar tari lain masih cenderung memakai kaset, dan bahkan ada juga yang tidak mengizinkan keluarnya gendhing khas sanggar tersebut untuk keluar dari kalangan pengajarnya.

[v] Bu Siti Sutiyah, atau Bu Tiyah, merupakan istri dari Romo Sasminta Mardawa, pendiri YPBSM. Bu Tiyah sampai hari ini masih mengajar tari di sanggar ini.

[vi] Penyebutan penggunaan kaset pita sebagai ‘manual’, cukup menarik, karena kemudian ada kesan bahwa CD dan MP3 dianggap ‘otomatis’. Hal ini tampaknya merujuk pada sistem pemutaran lagu yang tak dilakukan secara ‘manual’ (fitur rewind/fast forward di CD bisa langsung berganti antar lagu).

[vii] Sterne, J. 2012. MP3: The Meaning of a Format. Durham & London: Durham University Press.

[viii] Lipsitz, G. 1994 “It’s All Wrong, but It’s All Right: Creative Misunderstanding in Intercultural Communication”. Dalam Dangerous Crossroads: Popular Music, Postmodernism, and the Poetics of Place. London, New York: Verso; hlm 165.

[ix] Lomax, A. 1968. Folk Song Style and Culture. Washington, DC: American Association for the

Advancement of Science; halaman 4.

[x] Sutton, R. A. 1996. “Interpreting Electronic Sound Technology in the Contemporary Javanese Soundscape”. Ethnomusicology 40 (2): 249-268; hlm 250.

[xi] Ibid, hlm 252.

[xii] Lysloff, R. T. A. 1997. “Mozart in mirrorshades: ethnomusicology, technology, and the politics of representation”. Ethnomusicology 41 (2): 206-219; hlm 218.