album_art_yesno059

Preamble merupakan album kedua Risky Summerbee & the Honeythief sejak debut albumnya The Place I Wanna Go. Preamble menjadi salah satu Top Download di Yes No Wave Music 

 

Teknologi yang semakin maju dengan akses Internet yang juga semakin luas, telah memberi dampak pada industri musik. Dianggap bertanggung jawab atas maraknya distribusi musik ilegal yang mematikan industri, pada kenyataannya Internet memiliki potensi tersendiri dalam dunia musik. Jaringan Internet yang menghubungkan hampir seluruh belahan bumi dan meruntuhkan batas-batas antarnegara, telah membawa perubahan besar dalam distribusi musik, sebagai artefak budaya sekaligus produk pengetahuan.

Katakanlah ada kanal Youtube yang ramai dimanfaatkan para musisi, baik independen maupun yang dinaungi label besar, untuk merilis video klip, teaser, atau rekaman live. Lalu ada Soundcloud, Last FM, Reverb Nation, Bandcamp, serta berbagai website lainnya yang menyediakan jasa showcase dan distribusi musik. Di luar situs-situs besar tersebut, aktivitas musik online juga dilakukan dalam format yang lain, seperti berkirim via email, berbagi di forum atau folder online, online radio, dan lain sebagainya. Kesemuanya itu telah membuka kemungkinan yang lebih besar bagi para musisi serta penikmat musik untuk berbagi-dibagi, didengar-mendengar, dikenal-mengenal, sekaligus menyerap pengetahuan.

Hal paling mendasar dari fenomena tersebut adalah kebutuhan untuk berbagi, baik oleh pendengar maupun pencipta (musisi). Ide tentang berbagi inilah yang menjadi ihwal kemunculan netlabel. Tatkala sarana potensial telah tersedia, kebutuhan tak terbendung, sementara rilisan fisik sudah jelas sulit diandalkan. Indonesian Netlabel Union (INU) sepakat bahwa netlabel ada untuk merayakan free culture, dukungan dan perlindungan kepada semua orang untuk mengkonsumsi karya secara wajar, mencipta, dan mendistribusikannya. Kebebasan untuk memproduksi karya di atas karya yang sudah ada. Kebebasan untuk menyebarkan pengetahuan kepada publik. “Semangatnya adalah kebebasan untuk produksi dan distribusi pengetahuan,” jelas Anitha Silvia, salah satu aktivis INU.

Netlabel sendiri merupakan label musik berbasis Internet yang merilis karya-karya musik secara online, dimana karya-karya tersebut dapat diunduh secara gratis dan dilindungi hak intelektualnya di bawah lisensi Creative Commons (CC). Netlabel jelas berbeda dengan toko musik online macam iTunes atau Amazon, juga berbeda dengan situs macam Stafaband yang membagi-bagikan secara gratis rilisan mayor label di Internet. Perbedaannya sangat signifikan, pertama, karena netlabel tidak menarik bayaran dari pengunduh, dan kedua, rilisan di netlabel dibuat atas kesepakatan dengan musisi, yang dapat mengontrol reproduksi dan distribusi karyanya sesuai pilihan yang diberikan oleh lisensi CC.

Di Indonesia sendiri saat ini terdapat 17 netlabel yang aktif, sementara lima netlabel lainnya dalam kondisi hiatus. Jumlah ini relatif dan terus berubah, “Setiap tahun ada yang hiatus, ada yang terbit,” tutur Anitha. Sejauh ini, sebanyak 19 netlabel telah bergabung bersama INU, yang merupakan jaringan antar-netlabel yang menyebarkan ide mengenai netlabel di Indonesia. INU yang eksis sejak tahun 2011 ini di bulan November 2014 akan menggelar Indonesian Netaudio Festival (INF) kedua di Bandung. Sebuah festival, yang tidak hanya merayakan netlabel, tapi merayakan segala bentuk kegiatan berbagi musik di Internet dalam semangat free culture.

SSS Penampilan Seek Six Sick di Indonesian Netaudio Festival 2012 

Sampai saat ini netlabel Indonesia yang paling lama eksis adalah Yes No Wave Music, yang telah berdiri sejak tahun 2007 dan punya andil besar dalam mempopulerkan netlabel di Indonesia. Netlabel yang didirikan oleh Wok The Rock dan Bagus Jalang ini jugalah yang turut membesarkan Frau, serta merilis banyak karya para musisi independen, termasuk yang sudah banyak dikenal, seperti Senyawa, Risky Summerbee and The Honeythief, Seek Six Sick, dan White Shoes & The Couples Company. Pada proses kerjanya, Yes No Wave Music menerima kiriman demo dari musisi, lalu melakukan kurasi untuk mengetahui apakah karya tersebut sesuai untuk rilis di Yes No Wave Music. Dalam hal ini, Yes No Wave Music punya standar tersendiri.

Akan tetapi, meski sama-sama menjunjung tinggi free culture dan semangat berbagi, setiap netlabel tetap memiliki cara pandang yang berbeda satu sama lain. Jika Yes No Wave Music melakukan kurasi, maka beda lagi dengan Mindblasting yang konsisten untuk merilis karya apapun yang masuk ke mejanya. “Bagiku semua karya musik berhak untuk dipublikasikan, didistribusikan, dan dipromosikan. Dan itu (rekaman karya musik) tetap artefak pergerakan musik Indonesia,” ujar Taufiq Aribowo atau biasa disapa Arie, sosok di balik Mindblasting. Melalui paradigma tersebut, Mindblasting menjalankan fungsinya untuk mengarsipkan artefak pergerakan musik tanpa pandang bulu. Mindblasting memiliki visi untuk membantu para musisi lokal yang selama ini tidak banyak didengar, dapat diakses oleh publik yang lebih luas melalui netlabel.

Sementara itu, pengamat musik Denny Sakrie melihat netlabel dengan semangat free culture yang dibawanya, masih belum cukup tersosialisasikan dengan baik. “Publik masih cenderung melihat dari kacamata budaya gratisan,” ulas Denny, sehingga dengan demikian esensi berbagi itu sendiri jadi tidak nampak. Inilah yang membuat posisi netlabel masih dilematis. Denny juga menambahkan bahwa bagaimanapun juga hak-hak pencipta yang telah susah payah berkarya semestinya juga terpenuhi. Meski ia sendiri mengamini bahwa netlabel adalah alternatif distribusi musik baru yang mau tidak mau muncul karena tuntutan zaman dan teknologi.

Ya, netlabel merupakan pilihan alternatif yang muncul sebagai respon positif kemajuan teknologi Internet. Sebagai alternatif, dan bukan tandingan label yang memproduksi rilisan fisik. Sebagaimana foto dengan lukisan tidak dapat dipersaingkan, begitu juga antara netlabel dengan rilisan digital. Faktanya, penurunan kuantitas abum fisik tersebut juga tidak bisa sepenuhnya menyalahkan pembajakan. Hal ini juga berkaitan erat dengan perubahan zaman dan teknologi, sehingga mau tidak mau harus ada ide-ide baru yang menyiasati kondisi tersebut. Bukankah dahulu sebelum ada rilisan fisik orang harus datang langsung ke pertunjukkan musik? Tidak ada yang tidak berubah, justru pelaku musiklah yang harus menyesuaikan diri.

Bicara soal hak-hak pencipta, apalagi dari sudut pandang ekonomi dalam konteks netlabel memang tidak dapat disamakan dengan jual beli rilisan fisik atau jual beli toko online seperti iTunes dan Amazon. Dalam transaksi jual beli, ada uang, ada barang, sementara netlabel tidak mengenal transaksi jual beli semacam itu. Transaksi yang terjadi dalam netlabel pada dasarnya adalah transaksi budaya, bukan transaksi uang. Meski begitu, musisi yang merilis karya di netlabel sebenarnya memperoleh kesempatan untuk diapresiasi oleh publik yang lebih luas. Logikanya, semakin banyak pendengar, semakin besar potensi  penjualan merchandise dan rilisan fisik (jika musisi juga merilis versi fisik), termasuk juga tawaran manggung. Dengan kata lain, netlabel sebenarnya juga punya memberikan keuntungan dari segi ekonomi bagi karya-karya rilisannya, walau tidak secara langsung.

20140401_Netlabel_2-680x453

Berjualan merchandise, salah satu usaha yang dilakukan netlabel dan para musisi untuk mendapat pemasukan guna membiayai kebutuhan operasional mereka

Kebanyakan netlabel sendiri juga hidup dari penjualan merchandise, selain itu mereka biasanya juga mencantumkan tombol donasi yang ditujukan bagi pengunjung website. Sayangnya, tombol donasi tersebut nampaknya belum terfungsikan dengan baik. “Di Indonesia, donasi tidak populer di bidang seni. Donasi marak di bidang sosial dan agama saja. Kotak donasi yang disediakan sepi, pendonasi biasanya dari orang Eropa,” begitu cuit Wok The Rock di lini massa. Hal ini memang fakta yang tidak dapat dipungkiri, yang tentu punya korelasi dengan budaya gratisan yang disebut-sebut Denny Sakrie tadi. Dikatakan Anitha, “Kebanyakan dari netlabel Indonesia menggunakan uang pribadi untuk menghidupi netlabelnya, karena ini berawal dari kebutuhan dan kesenangan untuk berbagi karya.”

Sosialisasi, itulah yang saat ini nampaknya dibutuhkan. Pihak INU sendiri nampaknya sudah menyadari hal itu, dengan membawa visi untuk menjadi HUB antar netlabel di Indonesia, dan misi untuk mensosialisasikan netlabel di Indonesia. INU sendiri optimis netlabel adalah pilihan alternatif untuk dunia musik di Indonesia (dan juga dunia) yang sudah frustasi dengan turunnya penjualan album fisik. “Mengutip Indra Ameng, musik telah mati, penjualan fisik tidak lagi signifikan, band mendapatkan penghasilan dari panggung dan penjualan merchandise,” cetus Anitha. Ya, seperti itulah kondisinya saat ini. Lalu bagaimana dengan kamu, apakah mau ikut berbagi dan mensosialisasikan netlabel?

Tulisan oleh Asa Rahmana

Foto oleh Denan Bagus

Pertama kali di-posting di Indonesia Kreatif