Distorsi Akustik

Pesta Perilisan Distorsi Akustik – Puji Utomo

Taman KB, Semarang, 7 Februari 2015

 

Valetna Records kembali menggelar Pesta Rilis Album Distorsi Akustik – Genesis 2:3 (single) dan Distorsi Akustik – Puji Utomo (mini album) di Taman KB Semarang. Puji Utomo berisikan 7 lagu yang terinspirasi dari keadaan sosial dan kisah-kisah keseharian. Dalam single Genesis 2:3 terdapat dua lagu yang didistribusikan secara gratis menggunakan lisensi Creative Commons, sedangkan album Puji Utomo dengan 7 lagu bertemakan kritik sosial dijual dalam format digital.

Dalam pesta perilisan tersebut terdapat 6 band pendukung dari musisi lokal: Moiss, Radiodiffusion, Fond, Terasku, Dinding Kota, BBways. Acara sederhana perilisan album Puji Utomo ini ditujukan untuk menghormati gitaris terdahulu mereka Alm. Puji Utomo yang lebih dikenal dengan Uut Distrik–meninggal dunia pada tanggal 7 Januari 2014.

“Alm Uut Distrik memberikan kontribusi yang besar dalam penggarapan album ini, maka album ini merupakan penghormatan kami untuk beliau.”, ucap Viko sambil menyerahkan potongan tumpeng kepada Alfin–kakak kandung dari Alm.

Acara dibuka pukul 19.00 oleh pecinta seni tari dari SMAN 4 Semarang yang kebetulan sedang berada di kawasan Taman KB, kami berhasil “menculik” mereka untuk membuka acara. Dengan menggunakan seragam training, mereka memasuki panggung dengan penuh percaya diri . Memakan durasi 9 menit para gadis ini menghipnotis pengunjung yang beragam mulai dari penggerak/pecinta musik Semarang, beberapa keluarga yang menghabiskan akhir pekannya di Taman KB, hingga para ABG yang tampil dressed to kill.

BBways mulai tampak sibuk di pinggir panggung untuk siap tampil setelah tarian aceh SMAN 4 Semarang. BBways yang mengusung musik country ini membawakan 4 lagu. Dinding Kota kemudian mengambil alih panggung. Band instrumental post rock ini membawakan 3 lagu untuk membuka Distorsi Akustik yang tampil setelah mereka.

Sesi pertama Distorsi Akustik dibuka dengan single mereka Genesis 2:3, sebuah lagu instrumental yang bercerita bagaimana dunia ini tercipta. Sukses dengan lagu pembuka, mereka membuka lagu kedua dengan sedikit berorasi mengenai isu terrorism dan ekstrimis yang mengatasnamakan salah satu kepercayaan.

“ Islam bukanlah agama kekerasan, marilah kita jangan diam ketika ada sebagian kelompok yang membenarkan tindakan merusak mereka dengan dahlil agama!”, ucap Viko sebelum Hersandy membuka lagu ‘Uphoria Surga’ dengan suara gitarnya.

Distorsi Akustik menutup sesi pertama dengan “Mesin Pemahat Waktu” yang bercerita bahwa kematian itu nyata terlepas percaya atau tidak tentang Tuhan. Selanjutnya panggung diserahkan kepada Radiodiffusion yang tampil dengan menggunakan drum additional, Zaqi (Docar Balap).

“Malam ini kita bukanlah Radiodiffusion melainkan Radiobalap, karena malam ini kita dibantu oleh teman kita Zaqi untuk menggantikan sementara drummer kita yang sedang ada perjalanan bisnis ke Bandung.”, ucap Luqman sambil tertawa saat memperkenalkan additional drummer mereka.

Radiodiffusion membawakan dua lagu dari album pertama mereka dan satu lagu baru yang akan menjadi materi dalam album berikutnya. Selanjutnya Fond mulai mempersiapkan set alat mareka di panggung.

“Selamat buat Distrosi Akustik untuk album barunya, malam ini kita memberikan penghormatan bagi teman-teman kita yang berpulang lebih dahulu. Semoga Alm Uut dan Alm Momon—basist Moiss terdahulu–dapat diterima disisi-Nya.”, ucap Fahmi.

Sebelum membuka lagu pertamanya, Fond mempersembahkan salah satu lagu milik Sonic Youth. Fond menyajikan dua lagu berirama indie rock kepada pengunjung malam itu. Selepas Fond berhasil menghipnotis penonton malam itu kini giliran Moiss yang mengambil alih panggung dengan psychedelic rock-nya. Moiss meng-cover 3 lagu Jesus & The Mary Chain: “Rat”, “Just Like Honey”, “Sign”. Moiss menutup setnya dengan “Sink” dari EP mereka yang dirilis tahun 2014 lalu.

Terasku menjadi band terakhir yang ikut memeriah pesta perilisan album Distorsi Akustik. Band trio instrumental yang dipengaruhi oleh God Is An Astronouts ini membisukan penonton dengan dream instrumental post rock-nya. Tiga lagu Terasku ditutup dengan gitaris mereka yang memainkan pedal board-nya hingga menghasilkan bebunyian aneh namun tetap indah terdengar.

Sayangnya Distorsi Akustik tidak dapat naik panggung untuk sesi kedua karena keterbatasan waktu. Setiap band yang tampil malam itu tak henti-hentinya memberikan ucapan selamat kepada Distrosi Akustik yang berhasil merampungkan mini album perdana mereka bertajuk Puji Utomo. Well, sampai ketemu di gigs selanjutnya .

 

Cheers,

Project Manager – Valetna Records

Petra Wewra