Lepas Landas

Lepas Landas merupakan salah satu aksi lokal Bogor yang bisa dibilang cukup bersinar pada tahun 2012. Entah berapa banyak gigs yang memasang mereka sebagai salah satu headliner-nya. Saya pribadi mengenal mereka secara personal sejak tahun 2006, saat saya masih aktif bermain musik bersama Seven Troopers, band pop-punk bentukan saya dan kawan-kawan masa SMA. Beberapa kali band saya dan The Blockhead (yang notabene merupakan cikal bakal dari Lepas Landas) berbagi panggung bersama, latihan ditempat yang sama, ‘nongkrong’ ditempat yang sama, dan bukan kebetulan juga jika kami bernaung dibawah label yang sama, Geburztag Records milik Panji vokalis/gitaris The Blockhead. Medio 2007 beberapa personil dari The Blockhead memutuskan untuk membuat proyek musik sampingan bernama “Need More”, embrio musik Lepas Landas sudah mulai terbentuk melalui lahirnya proyek ini, pop-punk berbalutkan nuansa alternative rock a la Netral album “Hitam” dan “Putih”. The Blockhead dan Need More bertahan cukup lama hingga akhirnya perpecahan akibat perbedaan visi ditubuh keduanya tersebut melahirkan “Lepas Landas”, band baru bermuka lama yang mengambil namanya dari judul album ketiga milik dr. pm yang dirilis tahun 2001.

“Alur” pada dasarnya tidak banyak menawarkan hal baru, ia memang tidak serupa dengan EP mereka sebelumnya, tapi juga bukan sebuah repertoire yang benar-benar menggugah selera saya secara pribadi (yang kini bukan lagi seorang remaja tanggung yang gemar datang ke gigs menenteng plastik hitam). “Alur” bisa menjadi sebuah anthem inspiratif bagi Generasi Z, tapi tidak bagi saya. Dibuka dengan “Teriak”, sound gitar kering sedikit berat a la Easy Core/Melodic Hardcore menyambut telinga saya dan saling merangkai dengan gebukan drum yang telah memulai terlebih dahulu, bagian intro yang sedikit terbaca menjadi petunjuk berikutnya untuk menebak arah dari track ini selanjutnya, dan benar saja part shouting pun menyambut di akhir lagu, track pembuka yang cukup baik. “Melawan Hari Tanpa Waktu” memliki nuansa yang sama dengan track pembuka, melodic hardcore dengan part shouting, dan liukan notasi pada bagian reffrain yang sedikit bernafaskan Taking Back Sunday. Lagu ketiga, “Lepas Landas” merupakan versi sederhana dari dua track awal, nuansa indie rock yang terbangun melalui departemen gitar tetap berjalin dengan nafas pop-punk yang kuat dari notasi vokal dan cara bernyanyinya. Lagu terakhir “Kota Hujan” merupakan sebuah track kompilasi dari semua nuansa yang telah dibangun pada tiga track sebelumnya, Pop-Punk? check, Indie Rock? check, Melodic Hardcore? check, bahkan hingga Hip-Hop dan Post-Hardcore! Track kaya nuansa berdurasi hampir 6 menit ini merupakan highlight dari apa yang mereka tawarkan melalui “Alur”. Saya menikmati progresi dan nuansa anthemic yang mereka bangun pada lagu ini, lirik bertemakan Bogor menjadi sebuah nilai tambah sendiri yang bukan tidak mungkin akan menjadi lagu everlasting, sebuah ‘lagu panggung’ yang saya jamin akan memancing sing-a-long disetiap panggung mereka.

Memasang beberapa nama yang cukup dikenal di skena musik Bogor seperti Gusmar Helmi (Hate To Think), Yogi (Bajink Luncat), Yos Bonar (Hidden Message & Kuas Cielo), Djaling (Ex’Kuas Cielo), dan Higin Irfan Ayuga (Garasi, Ex’If I Die Tomorrow) sebagai musisi tamu memberikan kesegaran tersendiri. Perubahan arah musikal Lepas Landas memang cukup signifikan terasa, mereka mampu membangun alur dan atmosfer yang baik dari setiap lagu, progresi paling terasa ada pada departemen gitar dengan sound-nya yang tertata dan terasa sangat dipikirkan, selebihnya cukup membuat saya memiliki dasar untuk mengasosiasikan bahwa mereka terpengaruh oleh nama-nama seperti A Day To Remember, Set Your Goals, Mae (era “The Everglow”), dan Anberlin (era awal). “Alur” bagi saya merupakan sebuah suguhan musik yang cukup ringan, hanya saja menebak arah atmosfer yang mereka bangun memerlukan waktu ekstra untuk benar-benar menguggah secara personal. Bagi saya musik merupakan media kontemplasi yang paling relevan untuk mengontekskan pada suasana hati, dan hal itu tidak begitu saja saya dapat dari “Alur”, saya mengamini bahwa “Alur” merupakan materi yang sangat mumpuni untuk dibawakan di panggung. EP ini memang tidak buruk, hanya saja saya secara pribadi tidak memiliki konektivitas dan alasan yang cukup untuk menjadikan “Alur” sebagai salah satu suguhan yang termasuk ke dalam playlist di pemutar musik digital saya. “Alur” saya rekomendasikan penuh bagi generasi Z, sebuah repertoire bernafaskan kekinian yang cukup definitif dan menjanjikan.

Download Here